Sabtu, 11 Oktober 1997

Romo Yoso Pun Punya UFO

GATRA, Nomor 47/III, 11 Oktober 1997
GERAKAN MAKAR

Romo Yoso bergaya ala Soekarno
Pengikut Romo Yoso ditemukan di beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka mengaku memiliki UFO dan pelaku pembakaran hutan.
KESAKTIAN Romo Yoso ternyata cepat luntur. Walau dianggap memiliki kesaktian tinggi, orang yang mengaku titisan Bung Karno ini ternyata tak tahan menghadapi petugas pemeriksa Kepolisian Resor Kota (Polresta) Malang. Baru empat hari diinterogasi, Romo Yoso alias Arief Kusno langsung ambruk kelelahan. Sejak Ahad dua pekan lalu, pemimpin Divisi 10 yang mengadakan latihan militer ilegal di Malang itu harus dirawat di Rumah Sakit Syaiful Anwar, Malang.

Pemeriksaan terhadap para anggota Divisi 10 yang digulung petugas keamanan, Kamis dua pekan lalu, itu memang berlangsung maraton, mulai pagi hingga tengah malam. Pemeriksaan dilakukan di dua tempat. Romo Yoso dan 57 pengikutnya dari kalangan sipil disidik di Polresta Malang. Sedangkan tiga pengikut Divisi 10 dari militer, yakni Letnan Kolonel Kunandar, Sersan Mayor Surito (keduanya dari TNI-AD), dan Sersan Satu F.X. Priyadi (TNI-AL), diperiksa di Detasemen Polisi Militer Kodam Brawijaya di Surabaya.

Menurut sumber Gatra, sementara ini petugas telah mengidentifikasikan empat orang yang dianggap tokoh penting di Divisi 10 -dan sudah diringkus- yaitu Romo Yoso, Mbah Suryo, Parlan Darmawan, dan Yosef Suwandi. Orang pertama yang menduduki jabatan tertinggi dalam kelompok liar itu adalah Imam Syafi'i alias Arif Kusno alias Romo Yoso. Romo Yoso, seperti sudah diberitakan, berperan sebagai Panglima Divisi 10 dengan pangkat jenderal bintang lima. Menurut pengakuan Romo Yoso, ia membentuk Divisi 10 setelah mendapat mandat dari Jenderal Sentot Bagaskara. Ia bertemu Sentot di petilasan Indrokilo, di lereng Gunung Arjuno, Malang, pertengahan 1980-an.

Setelah lama tak bertemu, pada awal tahun ini Romo kembali bertemu Sentot. Mereka pun membentuk Divisi 10. "Jenderal Sentot itu yang memberikan ide pembentukan Divisi 10. Dia juga yang meminta saya sebagai panglima divisi sekaligus pimpinan kelompok ini," kata Romo Yoso kepada petugas, seperti ditirukan sumber Gatra. Romo pun mengaku bersedia memimpin kelompok itu setelah mendapat wangsit langsung dari Bung Karno. Siapa Jenderal Sentot itu, belum jelas. Tapi kabarnya ia sedang diuber petugas keamanan.

Orang kedua dalam kelompok Romo adalah Mbah Suryo, 76 tahun. Sehari-hari Mbah Suryo dikenal sebagai paranormal. Banyak orang yang datang kepadanya untuk meminta ilmu kekebalan, menambah rezeki atau kekayaan. Ia juga dikenal sebagai pedagang benda antik yang memiliki kekuatan magis, seperti besi kuning, cincin batu akik, dan samurai. Mbah Suryo, yang mengaku Ketua Gerdapri, perkumpulan kaum gerilyawan, bertemu Romo Yoso pada 1980-an. Mereka lalu akrab, karena sama-sama penganut aliran kebatinan. Dalam kelompok ini Mbah Suryo berperan sebagai penasihat sekaligus bertugas merekrut anggota baru.

Dengan profesi penjual barang antik, Mbah Suryo memang banyak berkenalan terutama dengan para penggemar benda antik dan klenik. Konon, Letnan Kolonel Kunandar terbawa masuk kelompok ini melalui Mbah Suryo. Ceritanya, pada 1995, Mbah Suryo mendengar bahwa Kunandar sedang mencari samurai. Mbah Suryo lalu menemui Kunandar di Cimahi, Jawa Barat, sambil membawa sebilah samurai. Saat itu Mbah Suryo pun memberitahu Kunandar perihal gerakan Romo Yoso. Karena tertarik, Kunandar pun sering bertemu Mbah Suryo hingga akhirnya masuk kelompok ini. Dua oknum ABRI lainnya, Sersan Mayor Surito dan Sersan Satu F.X. Priyadi, kabarnya juga masuk kelompok ini melalui Mbah Suryo. Mereka berkenalan dengan Mbah Suryo saat hendak membeli besi kuning yang konon mampu membuat pemiliknya kebal peluru.

Tokoh ketiga adalah Parlan Darmawan, 70 tahun. Orang Madiun ini menjadi salah seorang jenderal di Divisi 10. Dalam pemeriksaan, Parlan yang mengaku dekat dengan pejabat militer Amerika Serikat mengaku ditugasi mencari dana ke Amerika Serikat. Ia mengaku telah mengirimkan proposal ke Pentagon. Tokoh lainnya, Yosef Suwandi, pengusaha real estat di Malang yang membangun beberapa perumahan dengan bendera PT Rosma Dinamika. Suwandi inilah yang menyediakan tempat untuk markas dan tempat latihan Divisi 10.

Dari sumber Gatra itu terungkap, seminggu sebelum digerebek, Romo Yoso sempat mengirimkan surat kepada Panglima Daerah Militer Brawijaya dengan tembusan kepada Presiden, Wakil Presiden, Menteri Pertahanan Keamanan, Kepala Bakin, Kepala BIA, Kepala Kepolisian RI, dan Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur. Kertas yang digunakan untuk surat itu memakai kop Komando Utama Divisi 10, Brigade Utama Pengawal Revolusi 45 RI. Di sudut kiri atas ada logo Divisi 10 berbentuk segitiga dengan bintang di setiap sudutnya. Di tengahnya terdapat lambang burung garuda dalam lingkaran.

Dalam suratnya itu, Romo Yoso menginformasikan temuan operasi rahasia Divisi 10, berupa penyelundupan senjata di pesisir pantai utara Jawa Timur, di antara Gresik dan Tuban. Penyelundupan itu, menurut Romo, terjadi pada tengah malam, 8 September lalu. Benarkah informasi Romo itu? Tampaknya cuma khayalan sang Romo. Tapi tak seorang pun pejabat di Kodam Brawijaya yang mau memberikan keterangan tentang gerakan Romo Yoso ini.

Tampaknya petugas cukup pusing memeriksa para terdakwa. Soalnya, pengakuan para pengikut Romo Yoso sangat tak masuk akal. Misalnya, sampai sekarang mereka masih mati-matian mengakui Romo Yoso sebagai Bung Karno. Pemimpin gerakan itu diyakini memiliki kekuatan supranatural yang sangat tinggi. Bahkan seorang anggota kelompok memberikan informasi bahwa Romo Yoso memiliki UFO (piring terbang) yang cuma bisa dipakai Bung Karno gadungan itu. Pesawat itu sering dipakai Romo Yoso kalau bepergian ke Amerika Serikat. "Jadi, kalau orang Amerika sedang bingung melihat piring terbang, itu sebenarnya pesawat Romo Yoso yang sedang berkunjung ke sana," kata Parlan Darmawan, salah seorang jenderal kelompok ini, seperti diungkapkan sumber Gatra.

Hal musykil lainnya, Romo Yoso mengaku memiliki dokumen untuk mengambil dana revolusi yang tersimpan di beberapa bank di Swiss. Harta itu berbentuk simpanan uang dan emas yang nilainya trilyunan rupiah. Mereka juga mengaku sebagai pelaku pembakaran hutan di berbagai tempat di Indonesia. Masih banyak lagi pengakuan aneh Romo Yoso dan pengikutnya yang membingungkan. "Kalau ditanya, jawaban mereka selalu berputar-putar. Kalau kita ikut-ikutan gaya mereka, bisa-bisa kita ikut jadi gila," kata seorang pemeriksa.

Walaupun ajarannya tak masuk akal, ternyata pengikut Romo Yoso cukup banyak dan tersebar di beberapa kota. Di Jawa Tengah, petugas keamanan berhasil mengendus pengikut Romo Yoso yang tersebar di Klaten, Temanggung, Magelang, Wonosobo, dan Yogyakarta. Menurut sumber Gatra di Jawa Tengah, sekarang 11 orang di Klaten sedang berada dalam pengawasan petugas. Di Jagang, Sleman, petugas keamanan berhasil menemukan lahan seluas enam hektare di lereng Merapi, yang akan digunakan sebagai tempat latihan militer pengikut Romo Yoso.

Menurut sumber Gatra di Semarang, jaringan Divisi 10 di Jawa Tengah terungkap berkat laporan seorang bekas pengikut kelompok itu. Informan yang sudah sadar itu pernah mengikuti latihan militer di Malang, beberapa hari. Menurut keterangan informan itu, untuk menjadi anggota Divisi 10, semua calon pengikut dibaiat lebih dulu oleh Romo Yoso. "Setelah dibaiat, mereka seperti dihipnotis, percaya saja semua perkataan Romo Yoso," kata sumber Gatra tersebut. Mereka yang direkrut masuk kelompok ini kebanyakan berpendidikan rendah, remaja drop out dari sekolah, para pengangguran, serta orang yang keluarganya pernah tersangkut organisasi terlarang seperti PKI. "Dari orang-orang yang direkrut itu, kita tahu arahnya organisasi ini hendak melakukan makar," kata sumber itu kepada wartawan Gatra, Khoiri Akhmadi.

Sepuluh pengikut Divisi 10 di Klaten, saat diperiksa petugas keamanan, mengaku rata-rata sudah lima kali pergi ke Malang. Setiap kali pergi, umumnya mereka menginap lima hari di Markas Divisi 10. Di sana mereka mendapat pelajaran dan perintah dari pemimpin Divisi 10, Romo Yoso. Mereka yakin bahwa Romo Yoso itu titisan Bung Karno. Pulang dari Malang, setiap anggota mendapat tugas merekrut anggota baru. "Targetnya, setiap orang bisa mendapatkan pengikut baru sampai satu bus, sekitar 30 orang," kata sumber Gatra itu. Sampai sekarang para pengikut Divisi 10 di Klaten baru dalam tahap dimintai keterangan. "Kita tak boleh gegabah, perlu hati-hati menghadapi mereka. Kalau dihadapi frontal, mereka malah tutup mulut," kata sumber itu.

Di Jawa Barat, petugas sedang mencari pengikut Divisi 10 lainnya. Sampai saat ini petugas keamanan baru menangkap satu orang sipil, yaitu anak lelaki Kunandar. "Dia (Kunandar) itu benar-benar gendheng, masak anak sendiri dilibatkan dalam kegiatan terlarang," kata sumber Gatra. Menurut sumber itu, anak Kunandar dipaksa ayahnya ikut ke Malang. Di sana anaknya didaftarkan dan diberi pangkat kapten. Akibatnya, anak itu kini harus meringkuk di ruang tahanan Kepolisian Daerah Jawa Barat, guna diperiksa keterlibatannya.

Pemeriksaan paling ketat dilakukan di kesatuan tempat Kunandar bertugas. Kabarnya, seorang kapten dan seorang sersan telah melapor pernah diajak Kunandar. "Kapten itu dijanjikan jabatan wakil komandan batalyon, dan sersan itu juga dijanjikan pangkat mayor," kata sumber Gatra. Namun ajakan itu tak ditanggapi serius karena Kunandar mengajak hanya sambil lewat. Seorang sersan juga diperiksa karena sering pergi ke luar bersama Kunandar. Namun dalam pemeriksaan, sersan itu mengaku tak tahu-menahu kegiatan Kunandar di Divisi 10. Ia keluar bersama Kunandar karena memiliki hobi yang sama: main kartu.

Menurut informasi yang dikumpulkan Gatra, di kesatuannya karier Kunandar memang mentok. Beberapa tahun ini perwira senior itu tak lagi menempati jabatan strategis. Soalnya, perwira menengah itu diketahui tak bersih lingkungan. "Ada keluarga Kunandar yang anggota PKI golongan C dan B," kata sebuah sumber di Kodim Tegal, Jawa Tengah, kepada Heddy Lugito dari Gatra. Aib itu terungkap pada 1987. Ketika itu Kunandar masih berpangkat mayor dan menjabat kepala seksi pengamanan di kesatuannya.

Tapi menurut Kepala Pusat Penerangan ABRI Brigadir Jenderal A. Wahab Mokodongan, terlalu dini untuk menuduh Kunandar tak bersih lingkungan. "Saat ini pemeriksaan sedang dilakukan Pomdam Malang. Sedang diteliti apakah ada garis keturunannya yang terlibat. Dari sini nanti kita baru tahu. Kita kan harus memperhatikan hak asasinya dan asas praduga tak bersalah," kata Wahab Mokodongan.

Bambang Sujatmoko, Herry Mohammad, dan Syaiful Anam (Surabaya)