Kamis, 14 Desember 2017

Refleksi 20 Tahun BETA-UFO

Workshop dihadiri oleh Aris Haryanto, Kurniawan (Awank), Bryan Fernandy, Nur Agustinus, Venzha Christ, Ruci Minggus Haryono dan Alex Satrio.
BETA-UFO Indonesia didirikan tanggal 26 Oktober 1997. Kini usianya sudah menginjak 20 tahun. Selama dua dekade ini kita merasakan ada pasang surut kegiatan. Kami menyadari bahwa masih banyak yang harus dilakukan untuk berbenah diri. Banyak kekurangan yang ada. Meski kita bisa mengklaim bahwa kita adalah komunitas pengamat UFO terbesar dan terlama yang bertahan di Indonesia, namun karena adanya keinginan untuk menjadi lebih baik, kita perlu melakukan introspeksi diri. 

Tanggal 1 Desember 2017 lalu, bertempat di Fab Lab HONF, Yogyakarta, BETA-UFO difasilitasi untuk mengadakan workshop untuk mendiskusikan tentang apa saja inovasi yang bisa dilakukan oleh BETA-UFO. Workshop dihadiri oleh Aris Haryanto, Kurniawan (Awank), Bryan Fernandy, Nur Agustinus, Venzha Christ, Ruci Minggus Haryono dan Alex Satrio.

Diawali dengan membahas beberapa kekurangan yang ada, misalnya dalam hal survei, reporting system, survey hingga BETA-UFO yang dianggap kurang kekinian. Beberapa problem lain yang dirasakan antara lain adalah kurangnya sosialisasi/edukasi. Ini juga dirasakan karena tidak adanya team khusus. Selain itu adanya kerancuan pengetahuan publik tentang UFO.  Member juga tidak terkoordinir dengan baik dan adanya pertanyaan: “apa keuntungannya mengikuti BETA-UFO?” Untuk ini diusulkan ada imbal balik.

Selain itu juga ada masalah penggalangan dana melalui bisnis yang bisa dilakukan oleh BETA-UFO. Salah satu solusinya adalah melakukan produksi t-shirt UFO, brand BETA-UFO.

Semua ini menunjukkan bahwa kita mesti berbenah diri jika hendak menjadi lebih baik. Tak bisa kita hanya berdiam diri atau membiarkan berlangsung apa adanya. Diskusi-diskusi seputar UFO memang mengasyikan, tetapi itu tidak akan membawa BETA-UFO sebagai organisasi ke tujuannya. Kita akan berjalan di tempat bahkan tidak mustahil akan surut dan suatu saat akan ditinggalkan.

Untuk itu memang ada usulan agar antar anggota seharusnya menyamakan visi dan misi serta tujuan dalam menjadi UFO researcher. Meskipun pikiran satu orang dengan yang lain berbeda, setidaknya mempunyai satu pandangan.

Beberapa solusi yang juga muncul dari hasil brainstorming adalah lebih sering melakukan meet up, aktif di kaskus, buat thread BETA-UFO, membuat publikasi, termasuk membuat panduan yang bisa diterima masyarakat.

Salah satu isu yang juga dibahas adalah masalah legalitas organisasi. Apakah mau berbentuk yayasan, perkumpulan atau ormas. Ormas pada umumnya berkaitan dengan politik, sehingga pilihan ini bisa diabaikan. Jika pilihannya yayasan, maka sebagai yayasan, organisasi hanya mempunyai pengurus dan tidak punya anggota. Yayasan dalam strukturnya ada tiga bagian, yakni dewan pembina, dewan pengurus dan dewan pengawas. Sementara pilihan  yang lain adalah berbentuk perkumpulan. Semua bentuk organisasi ini diatur oleh undang-undang dan proses pendiriannya juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit (misalnya untuk membuat yayasan bisa sampai belasan juta) serta waktu yang cukup lama. Hal ini juga menjadi pertimbangan.

Dari brainstorming atas masalah dan solusi yang muncul, bisa dirangkum ada empat hal yang perlu menjadi perhatian BETA-UFO, yaitu Organisasi, Edukasi Publik, Riset/Investigasi, dan Pendidikan/Capacity Building.

Organisasi dalam hal bagaimana mengelola anggota, banyak member yang pasif. Juga mengenai fungsi dan struktur organisasi yang masih rancu. Organisasi juga berkaitan dengan masalah pendanaan, dan ini berkaitan dengan usaha (bisnis yang bis dilakakukan) serta donasi. Pernah juga dipikirkan untuk adanya iuran anggota.

Kemudian masalah Edukasi Publik. Perlu adanya informasi dan pengetahuan yang disampaikan oleh BETA-UFO ke publik. Hal ini bisa bersifat online maupun offline. Bentuknya bisa berupa forum di kaskus, Instagram, Twitter, Facebook. Untuk offline bisa dalam bentuk newsletter, buku, komik. Atau bisa juga dalam bentuk promosi dan pameran.

Berikutnya adalah bidang Riset dan Investigasi. Memang dirasakan kurang proaktif melakukan riset dan investigasi. Ini tidak lepas dari masalah waktu dan dana. Reporting system untuk saksi mata yang melihat ufo juga perlu diadakan dan diperbaiki. Karena data yang masuk bisa menjadi titik awal melakukan investigasi.

Kemudian yang keempat adalah Pendidikan/Capacity Building. Ini untuk meningkatkan kompetensi internal team dan member BETA-UFO. Misalnya adanya pelatihan untuk menjadi UFO invetigator yang handal, termasuk misalnya jika diperlukan pembangunan kapasitas internal di bidang manajemen organisasi.
Keempat hal ini yang dibahas dalam workshop BETA-UFO di Yogyakarya tersebut.

Setelah itu, peserta workshop mendiskusikan apa yang bisa dilakukan atau setidaknya direncanakan untuk dilakukan agar bisa memberikan nilai tambah bagi BETA-UFO, khususnya sesuai dengan misi BETA-UFO. Salah satu usulan yang kemudian dibahas secara serius adalah rencana pembuatan film. Hal ini didasari pemikiran bahwa film saat ini merupakan media yang paling mudah diterima oleh publik. Rencana untuk membuat film indie yang harapannya bisa ditayangkan di bioskop. Saat ini telah dibentuk team untuk itu dan tentu saja kegiatan-kegiatan lain juga tetap perlu dipikirkan agar kedepannya BETA-UFO semakin baik lagi.

Bagi yang mau bergabung dan berkomitmen membantu mengembangkan BETA-UFO, mari berkarya bersama agar BETA-UFO semakin diakui baik secara nasional maupun internasional, serta menjadi rujukan publik akan fenomena UFO di Indonesia.

Salam BETA-UFO.

Nur Agustinus
Surabaya, 14 Desember 2017