Rabu, 21 Maret 2018

Apakah Manusia Berevolusi dari Reptilia?

BANGSA REPTILIA

Mata Rantai Sejarah Kemanusiaan Dengan Bangsa Ular

Oleh Joe Lewels, Ph.D.

APAKAH MANUSIA BEREVOLUSI DARI REPTILIA?

Selama manusia telah membuat catatan mengenai keberadaannya, selalu ada legenda mengenai seekor ular besar.  Mitos-mitos ini mengisahkan mengenai suatu bangsa misterius yang terdiri dari makhluk-makhluk reptilia manusia super yang turun dari langit untuk berperan serta dalam penciptakan umat manusia dan untuk mengajarkan ilmu pengetahuan, memberikan pengetahuan yang terlarang, memberlakukan strata sosial, berkembang biak dengan kita, dan mengawasi perkembangan kita.

Makhluk-makhluk yang menyerupai ular ini tidaklah sendirian, tetapi merupakan bagian dari pengikut makhluk-makhluk super yang dianggap dewa oleh orang-orang jaman dahulu.  Tetapi, dalam kebudayaan-kebudayaan yang tersebar luas dan berbeda-beda seperti kebudayaan Sumeria, Babilonia, India, China, Jepang, Mexico, dan Amerika Tengah, dewa-dewa reptilia ditakuti dan dipuja.  Sampai dengan hari ini, naga dan ular menandakan keturunan dewa dan kerajaan di banyak negara Asia, sementara di Barat, ular melambangkan kebijaksanaan dan pengetahuan.  Lambang dua ekor ular yang melingkar membelit sebuah tongkat (yang sebenarnya melambangkan pohon pengetahuan dalam mitos kuno), dikenal sebagai lambang kedokteran, sekarang digunakan oleh Asosiasi Medis Amerika sebagai logonya.

Yang menarik, cerita-cerita mengenai makhuk reptilia yang melakukan pengendalian pikiran kepada manusia tertangkap sewaktu melakukan prosedur medis kepada mereka telah muncul dari peneliti yang dilakukan oleh beberapa penyelidik UFO yang terkenal, seperti Budd Hopkins, John Carpenter, Linda Moulton Howe, Yvonne Smith, dan lain-lain.  Cerita-cerita ini, dikisahkan oleh orang-orang Amerika kebanyakan, yang dapat diandalkan secara mental, telah muncul satu persatu secara terpisah dari tempat-tempat yang berbeda di negara tersebut, tetapi belum mendapatkan banyak perhatian dari publik.  Mereka menceritakan pertemuan manusia dengan makhluk-makhluk yang jelas memiliki ciri-ciri reptilia: tangan seperti cakar yang berselaput, mata emas yang besar dengan pupil vertikal, dan kulit coklat kehijau-hijauan yang bersisik.  Cerita-cerita seperti itu telah berputar di sekitar komunitas penelitian UFO selama bertahun-tahun, tetapi hanya sedikit ahli yang mengetahui bagaimana menginterpretasi kisah-kisah tersebut.

Begitu tidak dapat dipercayanya dan begitu menakutkannya mereka sehingga banyak peneliti, di masa lalu, yang menyimpannya begitu saja dalam pikiran mereka untuk referensi di masa yang akan datang daripada mengambil resiko untuk terlihat bodoh atau ditertawakan.  Sedikit demi sedikit, dengan konferensi mengenai UFO di seluruh penjuru negeri, korban penculikan dan peneliti mengetahui pengalaman serupa masing-masing dengan makhluk-makhluk reptilia, dan perlahan-lahan kisah-kisah tersebut tersebar luas.

Hari ini, para peneliti setuju bahwa ada beberapa jenis makhluk yang terlibat dalam skenario penculikan alien, termasuk makhluk Grey yang sudah tidak asing lagi; makhluk tinggi berambut pirang yang menyerupai manusia (Nordic); bangsa reptilia (Anunnaki); dan hibrida (setengah manusia dan setengah alien).  Sebagai tambahan, nampaknya ada perbedaan dalam makhluk-makhluk ini yang menandakan adanya kawin silang dan percampuran dengan tingkat yang cukup tinggi.  Tidak dimengerti dengan jelas bagaimana setiap jenis berinteraksi dengan jenis-jenis lainnya, meskipun mereka sering dilaporkan terlihat bersama-sama.

Penemuan-penemuan MUFON

John Carpenter telah meneliti fenomena penculikan.  Dia adalah direktor penelitian penculikan Mutual UFO Network (MUFON), salah satu organisasi terbesar dan paling kredibel yang didedikasikan bagi penelitian ilmiah UFO dan penculikan.  Carpenter mendapatkan gelar masternya di bidang pelayanan sosial dan berkualifikasi sebagai ahli hipnoterapi yang bekerja sebagai pskiatri pekerja sosial di Springfield, Missouri.  Sejak akhir 1980an, ia telah bekerja dengan lebih dari 100 orang korban penculikan dan mengumpulkan informasi dari ratusan korban penculikan lainnya.  Sebagai tambahan, ia berhubungan dengan para peneliti lain di bidang yang sama.  Ia telah terlibat dalam 10 kasus di mana orang-orang yang mengalaminya telah mendeskripsikan makhluk-makhluk reptilia, dan ia mengenal para peneliti di bagian lain negeri tersebut dengan kasus-kasus yang serupa.  Para korban penculikan seringkali mengalami luka seperti bekas cakaran dan memar-memar di tubuh mereka setelah penculikan mereka.


Carpenter menyimpulkan apa yang ia ketahui mengenai makhluk-makhluk ini dalam kolom regulernya, “Catatan Penculikan”, Jurnal UFO MUFON, edisi April 1993: “Biasanya, para makhluk reptilia ini dilaporkan bertinggi badang sekitar enam sampai tujuh kaki, berdiri tegak, dengan sisik-sisik seperti kadal, berwarna coklat kehijau-hijauan, dengan tangan seperti cakar berjari empat yang berselaput.  …  Wajah mereka dikatakan merupakan campuran antara manusia dan ular, dengan sebuah kerutan di tengah turun dari atas kepala sampai ke hidung.  Menambah pada penampilan mereka yang seperti ular adalah mata mereka dengan pupil yang vertikal dan iris warna emas.”  Mungkin yang paling menakutkan dan yang merupakan bagian yang paling mengundang kontroversi dari kisah-kisah ini adalah pengakuan-pengakuan bahwa para makhluk tersebut kadang-kadang dilaporkan melakukan hubungan seksual dengan korban penculikan.

Mendukung penemuan Carpenter adalah sebuah penelitian MUFON yang mendapatkan bantuan finansial dari Dana Bagi Penelitian UFO.  Penelitian besar ini, dikenal sebagai “Proyek Pengutipan Penculikan”, yang merupakan suatu usaha untuk mengumpulkan dan menghubung-hubungkan informasi dari ratusan kasus penculikan melalui penggunaan database komputer yang rumit.  Di bulan Juli 1995, di simposium organisasi tersebut di Seattle, Washington, Dan Wright meringkaskan penemuan-penemuan tersebut berdasarkan 142 kasus terpisah dan 560 kutipan.  Wright berkata, “Membaca secara cermat bagian-bagian tersebut menandakan secara jelas bahwa beberapa kelompok makhluk telah secara rutin mengganggu kehidupan orang Amerika – anak-anak dan juga orang dewasa. … Apabila yang disebut reptilia berulang kali digambarkan memiliki kesamaan dalam kulitnya yang bersisik, cakar sebagai jari-jarinya, dan ketertarikan yang ekstrim dalam seksualitas, maka kita harus waspada.”
Hasil-hasil awal penelitian tersebut menunjukkan bahwa tipe-tipe reptilia tersebut dilaporkan memiliki persentase yang relatif kecil (lebih kecil daripada 20 persen) dari kasus-kasus yang dipelajari.

Bukan Dari Galaksi Ini

Tidak perduli apakah makhluk-makhluk yang dilaporkan oleh korban penculikan adalah Grey, blondes, reptilia, atau jenis lainnya, fenomena skenario penculikan cukup konsisten dalam ribuan kasus yang telah diteliti sejauh ini.  Sebagai tambahan selain dilakukannya berbagai prosedur medis kepada mereka, para korban penculikan juga melaporkan telah menerima informasi dalam bentuk lambang atau gambar, yang artinya seringkali tidak jeals, tetapi sebagian besar di antaranya berhubungan dengan malapetaka-malapetaka Bumi di masa yang akan datang.  Makhluk-makhluk tersebut kadang-kadang menyebut diri mereka sendiri sebagai “Pengawas”, “Penjaga”, atau “Pelindung Umat Manusia” dan semua makhluk hidup di Bumi; dan mereka mengatakan bahwa mereka sedang bersiap-siap untuk waktu yang tidak lama lagi akan tiba pada waktu perubahan global akan sangat mempengaruhi kehidupan di planet kita.  Dalam beberapa kasus, mereka telah menunjukkan bahwa mereka berasal dari berbagai bagian dari Alam Semesta, termasuk Galaksi-galaksi lain, atau dari “sebuah tempat yang sangat jauh.”
Satu hal yang pasti merupakan hal yang paling mengkhawatirkan dari prosedur-prosedur yang dilaporkan, baik pria maupun wanita korban-korban penculikan, tetapi lebih sering wanita, melaporkan diperlihatkan ruang-ruang pamer yang dipenuhi dengan ratusan tabung-tabung kaca di mana janin-janin hibrida dipelihara, lebih seperti taman hidroponik.  Dalam banyak kasus, orang-orang yang mengalami diperlihatkan ruang perawatan bayi-bayi hibrida atau ruang-ruang yang penuh dengan anak-anak hibrida dengan umur bervariasi.  Seringkali makhluk-makhluk tersebut membawa seorang bayi atau seorang anak kepada wanita-wanita tersebut untuk digendong dan disayangi, dan mereka diberi tahu bahwa anak tersebut adalah anak mereka.

Peristiwa-peristiwa ini dilaporkan oleh korban penculikan Betty Andreasson Luca, yang kasusnya telah menjadi objek penyelidikan selama lebih dari 20 tahun, yang telah menjadi subjek dalam empat buku yang ditulis oleh penyelidik UFO Ray Fowler.  Dalam bukunya, Sang Pengawas, Fowler melaporkan sebuah sesi hipnotis di mana Betty ingat diberi tahu oleh makhluk-makhluk yang telah membawanya ke dalam pesawat mereka bahwa “Manusia akan menjadi steril” karena lingkungan yang terpolusi.  Lebih jauh lagi, ia diberi tahu bahwa ada “Pengawas yang baik dan yang jahat”, yang Betty sebut sebagai “malaikat”.

Dia diperingatkan bahwa ada yang “melawan manusia, yang akan melukai dan menghancurkan manusia.”


Bukti Gulungan Kertas Laut Mati

Referensi mengenai Pengawas, malaikat-malaikat yang baik dan yang jahat, dan bayi-bayi hibrida dapat ditemukan di banyak teks-teks kuno termasuk Perjanjian Lama, yang diambil dari dokumen-dokumen yang jauh lebih tua, termasuk Kitab Enokh.  Nabi Enokh disebutkan dalam Kitab Kejadian sebagai putra Kain dan ayah Methuselah, dan ia dipercayai sebagai salah satu sesepuh jaman dahulu (sebelum Air Bah) yang, bersama-sama dengan Nuh, “berjalan dengan Tuhan” (Kejadian 4:24; 6:9).  Buku-buku yang ditulis oleh pengarang yang tidak diketahui, tetapi dianggap berasal dari Enokch, diberikan kredibilitas yang tinggi oleh orang-orang terpelajar Yahudi kuno dan dengan demikian mempengaruhi penulis-penulis Kejadian Lama.  Bagian-bagian Kitab Enokh yang ditulis dalam bahasa Aramaic ditemukan di antara serpihan kertas kulit di dalam gua-gua Qumran di tahun 1947, setelah diletakkan di sana hampir 2.000 tahun yang lalu oleh sebuah sekte agama Yahudi yang dikenal sebagai Essenes.  Ini, tentu saja, adalah Gulungan Kertas Laut Mati.  Versi lainnya ditulis dengan bahasa Ethiopia.

Menurut dokumen Aramaic tersebut, “Enokh adalah yang pertama di antara anak-anak manusia yang lahir di Bumi yang telah belajar menulis, ilmu pengetahuan, dan kebijaksanaan” dari malaikat-malaikat.  Dalam satu tulisan, “Buku Pengawas”, kita mengetahui bahwa Pengawas-pengawas tersebut adalah malaikat dan ada Pengawas yang baik dan yang jahat.  Kita diberi tahu bahwa para Pengawas tersebut adalah malaikat-malaikat Allah, “turun ke Bumi untuk mendidik anak-anak manusia dan untuk menegakkan keadilan dan persamaan di Bumi.”  Tetapi dalam kasus malaikat yang buruk atau jahat, ilmu pengetahun yang mereka ajarkan pada akhirnya menjadi buruk karena dosa-dosa mereka.

Dosa mereka adalah mereka membiarkan nafsu seksual mereka menguasai mereka: “Pada waktu Pengawas yang jahat turun dan melihat anak perempuan manusia, mereka mulai merusakkan moral mereka sendiri dengan mereka.  Pada waktu anak-anak lelaki Tuhan melihat anak-anak perempuan manusia, mereka tidak dapat menahan rasa suka mereka.”

Para Pengawas ini jatuh dari kemuliaan Tuhan ketika Enokh pergi ke langit dalam bentuk fisik untuk bersaksi melawan mereka.  Ia mengatakan kepada Tuhan bahwa para Pengawas tersebut “telah mulai memasuki anak-anak perempuan manusia, sehingga mereka menjadi tidak suci.”  Sebagai hukuman untuk dosa-dosa Pengawas jahat ini terhadap manusia, Tuhan menghancurkan kemanusiaan, termasuk makhluk-makhluk hibrida yang merupakan anak-anak manusia dan Pengawas, dengan mendatangkan sebuah banjir besar.  Para Pengawas yang jahat dimasukkan ke dalam sebuah lubang berapi dan dijaga oleh empat pemimpin Pengawas yang baik, Malaikat Tertinggi Michael, Sariel, Rafael, dan Gabriel.

Referensi menarik lainnya mengenai para Pengawas tersebut ditemukan di gua yang sama sama seperti Kitab Enokh, tetapi tidak diketahui sampai tahun 1992, ketika dua orang peneliti Alkitab, Robert Eisenman dan Michael Wise, menerbitkan buku mereka, Gulungan Kertas Laut Mati Terbuka Sudah.

Di antara 50 dokumen yang dipublikasikan untuk pertama kalinya dalam buku ini adalah sebuah referensi yang unik mengenai para Pengawas tersebut, karena memberikan beberapa gamabaran fisik mereka.  Tulisan tersebut, disebut “Kesaksian Amran”, menceritakan pengalaman seorang yang bernama Amran di mana “seorang malaikat dan seorang setan” memperebutkan jiwanya: “[Saya melihat para Pengawas] dalam penglihatan saya, penglihatan mimpi.  Dua [orang] sedang memperebutkan saya.  Saya bertanya kepada mereka, ‘siapa kalian, sehingga kalian diberi kekuasaan atas saya?’  Mereka menjawab saya, ‘Kami [telah diberikan] kekuasaan dan menguasai semua Umat Manusia,’  Kata mereka kepada saya, ‘Siapa di antara kami yang [kau] pilih untuk menguasai [engkau]?’  Saya menaikkan pandangan saya dan melihat.  [Salah seorang dari] mereka penampilannya menakutkan, [seperti seekor] ular, [pakaiannya] berwarna-warni tetapi sangat gelap. … [Dan saya melihat lagi], dan … dalam penampilannya, wajahnya menyerupai ular. … [Saya menjawabnya,] ‘[Pengawas] ini, siapakah ia?’  Ia menjawab saya, ‘[Pengawas] ini, … [dan tiga macam namanya adalah Belial dan Pangeran Kegelapan] dan Semacam Setan.’”

Yang membuat kesaksian ini lebih menakjubkan adalah fakta bahwa karakter yang sedikit diketahui yang bernama Amram ini adalah seorang yang lumayan penting.  Amram, ternyata, adalah ayah salah seorang penghubung yang paling penting dalam sejarah, orang yang menyelamatkan kaum Yahudi dari perbudakan di Mesir.  Orang ini, tentu saja, tidak lain tidak bukan adalah Musa!


Dewa-dewa Reptilia Makhluk Luar Angkasa

Apabila itu adalah satu-satunya referensi mengenai makhluk-makhluk reptilia dalam dokumen-dokumen kuno, maka dapat dengan mudah diabaikan, tetapi kisah-kisah mengenai makhluk-makhluk seperti itu sudah ada sejak tulisan manusia yang paling awal, seperti Sumeria (yang berarti “negeri para pelindung”), Babilonia (yang berarti “gerbang dewa-dewa”), dan kebudayaan-kebudayaan Mesopotamia kuno lainnya.  Di antara ribuan ukiran tanah liat yang telah ditemukan dan diterjemahkan mulai dari sejarah tertulis yang paling awal, ada dokumen-dokumen yang mencatat peristiwa-peristiwa mulai dari yang terjadi 240.000 tahun yang lalu.  Salah satunya, Raja Sumeria List, menceritakan kisah seorang dewa, Anu, dewa tertinggi dari bangsa makhluk luar angkasa yang disebut Anunnaki, dan putra-putranya, Enki dan Enlil.  Terlihat jelas dalam dokumen-dokumen tersebut dan ilustrasi yang ditinggalkan oleh bangsa Sumeria bahwa paling tidak beberapa dari “dewa-dewa” ini, termasuk Enki (juga dikenal sebagai Ea), bernampilan reptilia.  Adalah Enki yang memberikan buah pohon pengetahuan kepada manusia pertama dan yang kemudian menyelamatkan kemanusiaan dengan memperingatkan seseorang yang menyerupai Nuh mengenai banjir banjir.

Cerita-cerita ini mirip dengan Perjanjian Lama sehingga kita hanya bisa menyimpulkan bahwa penulis-penulis Perjanjian Lama sangat mengandalkan mereka.  Dalam dongeng Sumeria, Enki diberikan tugas untuk menciptakan suatu pasukan pekerja untuk membantu Anunnaki menggali tanah dan tambang bijih besi yang merupakan tujuan mereka datang ke Bumi.  Tugas ini ia lakukan dengan melalui cukup banyak percobaan dan kesalahan, dalam proses menciptakan makhluk-makhluk yang aneh.  Legenda itu mengisahkan bahwa Enki memiliki teknologi yang sangat canggih yang meliputi kemampuan untuk merubah genetika asli dari sebuah spesies tertentu.  Dengan menggunakan proses yang misterius untuk menciptakan materi yang menyerupai tanah liat, ia mampu “memasukkan rupa dewa-dewa ke dalamnya”, menandakan bahwa Enki menggunakan gen-gen Anunnaki untuk menciptakan suatu spesies hibrida.  Hal itu juga menunjukkan bahwa sebagian manusia kuno mungkin juga memiliki penampilan reptilia.


Nenek Moyang Reptilia Kita

Meskipun kedengarangan konyol dan menjijikkan, secara umum telah diterima oleh ilmu pengetahuan modern bahwa nenek moyang umat manusia mungkin adalah reptilia.  Menurut penjelasan Darwin mengenai asal mula spesies manusia, mamalia berevolusi dari reptilia dan mendapatkan penguasaan atas Bumi hanya setelah suatu bencana besar yang masih diperdebatkan yang memusnahkan dinosaurus.  Menurut teori hanya pada saat itulah mamalia mampu berkembang biak dan pada akhirnya berevolusi menjadi makhluk yang cerdas.  Agak menakjubkan bahwa kisah bangsa Sumeria kuno berhubungan begitu erat dengan pandangan Darwin.  Dalam kedua kasus ini, manusia dikatakan mempunyai hubungan dengan bangsa reptilia yang superior, dalam kedua kasus, sebuah perubahan alam besar yang terjadi tiba-tiba memusnahkan spesies yang sebelumnya.  (Dalam Alkitab, adalah suatu bangsa hibrida raksasa yang dikenal sebagai Nephilim yang ingin dimusnahkan oleh Tuhan.)  Akhirnya, dalam kedua cerita tersebut, yang bertahan dari bencana tersebut mulai kembali dari awal, dan pada akhirnya berevolusi menjadi manusia.

Dalam bukunya, Naga-naga Taman Eden, ahli perbintangan yang ternama Dr. Carl Sagan berspekulasi mengenai asal mula reptilia manusia dan mengenai lompatan misterius dalam evolusi otak yang dapat ditemukan dalam catatan fosil.  Ia mengatakan bahwa apabila manusia telah berevolusi secara alami dari reptilia, seperti yang dikatakan para pengikut Darwin, akan memakan waktu 200 juta tahun bagi mamalia untuk berevolusi untuk pertama kalinya, dan kemudian lima sampai sepuluh juta tahun lagi bagi manusia untuk berevolusi.  Tetapi ia mengatakan, dengan kebingungan yang amat sangat, bahwa catatan fosil sama sekali tidak memberikan kesimpulan ini.  Sebenarnya, evolusi mamalia, dan manusia pada khususnya, terjadi dengan sangat cepat, “dalam sebuah evolusi besar pada otak yang terjadi dengan tiba-tiba”.  Bukti untuk hal ini sebenarnya jelas yaitu perkakas dari batu tidak muncul secara perlahan-lahan, tetapi “mereka muncul tiba-tiba dan sekaligus banyak sekali”.  Dengan rasa kecewa, Sagan menyimpulkan bahwa “tidak ada cara untuk menjelaskan hal ini kecuali Australopithecines memiliki institusi pendidikan”, untuk mengajarkan pembuatan perkakas.  Tentu saja, ada penjelasan lain, tetapi tidak ada satupun ilmuwan konvensional yang berani mempertimbangkannya.  Alternatif tersebut adalah dengan mengakui bahwa Tuhan atau makhluk-makhluk seperti dewa terlibat dalam hal mempercepat proses evolusi.

Bagian Otak Reptilia

Sagan juga dipusingkan oleh kemiripan antara otak reptilia dengan otak manusia.  Ia menunjukkan bahwa dalam bagian terpenting pada otak manusia terletak sisa-sisa masa lalu reptilia kita.  Bagian otak ini, dikenal sebagai R-kompleks (reptilia komleks), disebut-sebut sebagai bagian dari pikiran yang melakukan fungsi-fungsi dinosaurus – perilalu agresif, penguasaan daerah, ritual, dan penetapan hierarki sosial.  Lapisan tengah disebut sistem limbic dan diperkirakan yang menghasilkan rasa kasih sayang, benci, simpati, dan karakteristik-karakteristik sentimental yang dipercaya merupakan ciri khas mamalia.  Bagian terbesar dari otak manusia, lapisan neo-korteks atau lapisan luar, dipercaya adalah pusat logika dan pertimbangan serta merupakan “tempat di mana kita mengetahui perbedaan antara yang baik dan yang jahat.”

Sekali lagi, nampaknya ilmu pengetahuan setuju dengan mitos-mitos kuno mengenai penciptaan, karena adalah pengetahuan mengenai yang baik dan yang jahatlah (diberikan kepada mereka oleh seekor ular) yang menyebabkan perempuan dan laki-laki pertama jatuh dari kemuliaan dengan pencipta mereka.  Apila pencipta manusia adalah reptilia, maka mungkin saja bahwa dengan menjadi mamalia – dan mengembangkan neo-korteks – kemanusiaan menjadi lebih sedikit sifat reptilianya, dengan demikian jatuh dari kemuliaan.

Dokumen-dokumen kuno lainnya mengemukakan kesimpulan yang menkhawatirkan ini.  Di tahun 1945, di sebuah kota kecil di Mesir, sebuah guci tanah liat ditemukan berisi gulungan kertas kuno yang mirip dengan Gulungan Kertas Laut Mati.  Gulungan kertas ini dikenal sebagai Dokumen Nag Hammadi, dinamakan mengikuti nama kota di mana gulungan kertas tersebut ditemukan.  Tulisan tersebut menceritakan kisah penciptaan manusia sebagai berikut: Tubuh Adam dan Hawa ditutupi dengan kulit yang keras seperti tanduk yang seterang siang hari, seperti pakaian yang berpijar-pijar.  Dengan demikian, sepertinya, mereka tidak memerlukan pakaian.  Lebih jauh lagi, tulisan-tulisan ini menceritakan kisah pohon pengetahuan yang jauh berbeda daripada yang dikisahkan dalam Kitab Kejadian: “Ia mengambil beberapa buah dan memakannya, dan ia juga memberikannya kepada suaminya.  …  Kemudian pikiran mereka terbuka.  Karena pada waktu mereka memakannya, cahaya pengetahuan bersinar bagi mereka.  Pada waktu mereka melihat pencipta mereka, mereka membenci diri mereka sendiri karena mereka berbentuk binatang.  Mereka sangat mengerti.”

Dalam dokumen Yahudi kuno lainnya, yang dikenal sebagai Haggadah, dikatakan dengan jelas bahwa ular tersebut bukanlah sekadar seekor ular: “Di antara binatang-binatang, ular tersebut sangat penting.  Di antara mereka semua, ialah yang memiliki kualitas yang paling baik, dalam beberapa hal ia menyerupai manusia.  Seperti manusia, ia berdiri tegak dengan kedua kakinya, dan dalam hal tinggi badang, ia sama tinggi dengan unta.  ...  Berkat mentalnya yang superior menyebabkannya menjadi seorang yang tidak beragama.  Hal tersebut nampaknya menjelaskan rasa iri hatinya terhadap manusia, terutama kunjungan-kunjungan perkawinannya.  …  Sebagai hukumannya karena mencobai Hawa, Tuhan berkata, ‘Aku menciptakan kau sebagai raja binatang-binatang … tetapi kau tidak merasa puas.  … Aku dulu menciptakan kau dengan tubuh yang tegak … oleh karena itu, kau akan berjalan dengan perutnya.’”

Petunjuk-petunjuk yang menggoda yang berasal dari masa lalu yang gelap ini nampaknya paling tidak memberikan dukungan bagi pemikiran bahwa para penghuni UFO hari ini, baik reptilia atau bukan, benar-benar adalah apa yang mereka katakan – para pelindung Umat Manusia di jaman dahulu.  Apabila hal itu benar demikian, maka teori bahwa UFO dipiloti oleh alien yang berasal dari planet-planet lain harus dievaluasi ulang secara cermat.  Tetapi, apapun jawabannya, jelas bahwa para peneliti UFO telah disibukkan untuk menangani misteri yang panjang dan berbelit-belit ini.

Joe Lewels adalah seorang peneliti independen yang sementara ini sedang mengerjakan sebuah buku yang berhubungan dengan UFO dan implikasi relijiusnya.  Ia sedang mengumpulkan kisah-kisah mengenai pertemuan dengan bangsa reptilia dan mengundang para pembaca dengan pengalaman-pengalaman serupa untuk menulis surat kepadanya dengan alamat Majalah FATE.

[KOMENTAR : Artikel ini dikirimkan kepada saya oleh seorang teman di internet.  Saya tidak mengenal penulis secara pribadi, sayapun tidak mengetahui tahun penerbitan dan hak cipta dari artikel ini.  Rob Sol├árion, 1 Februari 2001]