Senin, 02 April 2018

TENTARA LANGIT

These following notes are of my own personal opinion . Not necessarily reflecting and/or co-related to any official concept of any religion. If you feel offended by some unusual thoughts, Please Do Not Continue


Oleh: Nur Agustinus

Tulisan ini pertama kali diposting di milis BETA-UFO tanggal 30 November 1997 hingga 11 Desember 1997.


Blessed Be the Host of the King of Heaven, a Russian icon from the 1550s

Pengantar

Kejadian pada jaman dahulu kala, tercatat dalam berbagai prasasti dan tulisan di dinding. Di daerah Timur Tengah dan Afrika, terdapat sebuah kebudayaan yang tergolong maju di masa itu. Di sekitar sungai Efrat dan Tigris berdiri kerajaan Sumeria dan Babilonia. Sementara di Afrika Utara ada kerajaan Mesir dan di daerah timur tengah ada bangsa Yahudi yang kemudian membuat kerajaannya di daerah Kanaan.

Sejarah mencatat bahwa bangsa-bangsa di daerah tersebut mempunyai sistem keagamaan politeisme, yakni menyembah banyak tuhan atau dewa-dewa/dewi. Misalnya untuk bangsa Mesir, dikenal Dewa Amon-Ra sebagai dewa tertinggi. Saya menggunakan kitab perjanjian lama dari Alkitab dalam menganalisa para dewa dan tentara langit. Pada masa itu, praktek penyembahan dewa-dewa banyak dilakukan dan dianggap sebagai menyembah berhala. Ada yang menyembah dewa Baal, dewa matahari, dewa bulan, dan rasi-rasi bintang termasuk mereka menyembah segenap tentara langit. (2Raj 23:5)

Beberapa nama dewa yang tercatat dalam perjanjian lama dan disembah waktu itu:
  • Asytoret, dewa sembahan orang Sidon (2Raj 23:12)
  • Kamos, dewa sembahan Moab (2Raj 23:12)
  • Milkon, dewa sembahan orang Amon (2Raj 23:12) dan orang Gad (Yer 49:1)
  • Dewa Bel (Yes 46:1) disembah di Babel (Babilonia) (Yer 51:44)
  • Dewa Nebo (Yes 46:1)
  • Dewa Gad (Yes 65:11)
  • Dewa Meni (Yes 65:11)
  • Dewa Asyera (2Raj 21:3)
  • Dewa Amon dari Tebe (Yer 46:25)
  • Betel, dewa kepercayaan orang Israel (Yer 48:13).
  • Dewa Tamus. (Yeh 8:14)
  • Kewan, dewa bintang yang disembah orang Israel (Amos 5:26)
  • Dewa Molokh dan bintang dewa Refan (Kis 7:43)

Pertanyaannya, apakah dewa-dewa itu hanya figur yang dibuat oleh manusia dalam rangka menyembah yang lebih berkuasa atas manusia, ataukah para dewa itu sebenarnya benar-benar ada? Apakah dewa-dewa yang disebut itu sebenarnya tidak ada? Ataukah mereka (para dewa itu) dahulu pernah menampakan diri kepada manusia dan bertindak seakan-akan mereka adalah penguasa yang harus disembah, di mana manusia harus memberi persembahan kepada mereka dengan imbalan keamanan dan keselamatan. Paling tidak mungkin mirip praktek mafia yang minta upeti untuk jaminan keselamatan.

Pada waktu itu, orang Israel dianggap menyembah satu Tuhan, atau mereka merupakan bangsa yang monoteisme. Walau dalam studi antropologi dan sejarah menunjukkan bahwa nampaknya orang Israel ini menyembah beberapa bentuk Tuhan, misalnya ada yang disebut dengan Allah Abraham, ada juga yang disebut dengan Allah Ishak, dan ada juga yang disebut dengan nama Allah Yakub. Namun kebanyakan orang menganggap Allah yang disembah oleh Abraham, Ishak dan Yakub, termasuk yang bertemu dengan nabi Musa adalah sama. Allah yang bertemu dengan nabi Musa disebut dengan YHWH (atau sering disebut dengan Yahweh).

Kita tidak tahu secara pasti, apakah Allah yang disembah oleh orang Israel, yaitu Yahweh ini, adalah Allah satu-satunya yang Maha Kuasa, ataukah sebenarnya tidak berbeda dengan dewa-dewa lain yang disembah oleh bangsa lain di masa itu. Sebuah ayat nampaknya menunjukkan bahwa keberadaan dewa-dewa lain itu bisa dianggap ada, yaitu dalam Yeremia 46:25 :

TUHAN semesta alam, Allah Israel, berfirman: "Sesungguhnya, Aku mendatangkan hukuman atas dewa Amon dari Tebe, atas Firaun beserta Mesir, dewa-dewanya dan raja-rajanya, yakni atas Firaun beserta orang-orang yang percaya kepadanya.

Bila dipikir secara logika, kalau Allah Israel bisa mendatangkan hukuman atas dewa Amon dari Tebe, berarti dewa Amon itu benar-benar ada. Bukankah tidak mungkin memberi hukuman kepada sesuatu yang tidak ada?

Pertanyaannya, siapakah dewa-dewa yang disembah oleh bangsa-bangsa yang ada di masa itu? Dari manakah mereka datang? Pada umumnya para dewa selalu dikatakan bahwa mereka datang dari langit. Apakah mereka datang dari bintang atau planet lain?

Nampaknya, selain dewa-dewa yang disebutkan itu, ada juga suatu makhluk atau kesatuan yang juga disembah oleh kebanyakan orang yang hidup di masa itu, yaitu yang disebut dengan tentara langit. Tentara langit atau dalam bahasa Inggris (sebutan yang dipakai dalam Alkitab berbahasa Inggris) adalah host of heaven. Bahkan orang Israel-pun pernah tercatat menyembah tentara langit ini.

Ia mendirikan kembali bukit-bukit pengorbanan yang telah dimusnahkan oleh Hizkia, ayahnya; ia membangun mezbah-mezbah untuk Baal, membuat patung Asyera seperti yang dilakukan Ahab, raja Israel, dan sujud menyembah kepada segenap tentara langit dan beribadah kepadanya. (2RAJ 21:3)

Siapakah Tentara Langit itu?

BAAL dan ASYERA

Dalam Perjanjian Lama nampaknya tak ada informasi secara khusus tentang Tentara Langit. Namun yang dimaksud sebagai tentara langit nampaknya jelas adalah suatu person atau makhluk. Tentara langit bukan melambangkan aneka benda langit yang dapat dilihat, seperti matahari, bulan dan bintang, melainkan adalah suatu bentuk Alien Life Form (ALF), di mana mereka (tentara langit) adalah makhluk hidup yang juga harus menyembah Allah.

"Hanya Engkau adalah TUHAN! Engkau telah menjadikan langit, ya langit segala langit dengan  segala bala tentaranya, dan bumi dengan segala yang ada di atasnya, dan laut dengan segala yang  ada di dalamnya. Engkau memberi hidup kepada semuanya itu dan bala tentara langit sujud  menyembah kepadaMu. (Nehemia  9:6)

Jelas di sini diungkapkan bahwa tentara langit adalah makhluk hidup yang diciptakan juga oleh Allah dan harus sujud menyembah Allah pula. Namun dalam prakteknya, ternyata tentara langit ini berupaya untuk berkuasa atas manusia dan ingin disembah oleh manusia.

Praktek penyembahan terhadap tentara langit banyak diungkapkan dalam kitab Perjanjian Lama. Dan Allah orang Israel (Yhwh) secara khusus melarang orang israel untuk menyembah kepada Tentara Langit.

.....dan juga supaya jangan engkau mengarahkan matamu ke langit, sehingga apabila engkau  melihat matahari, bulan dan bintang, segenap tentara langit, engkau disesatkan untuk sujud  menyembah dan beribadah kepada sekaliannya itu, yang justru diberikan TUHAN, Allahmu,  kepada segala bangsa di seluruh kolong langit sebagai bagian mereka.... (Ulangan 4:19)

...dan yang pergi beribadah kepada allah lain dan sujud menyembah kepadanya, atau kepada  matahari atau bulan atau segenap tentara langit, hal yang telah Kularang itu... (Ulangan 17:3)

Siapakah tentara langit itu? Adakah nama mereka tercatat dalam Perjanjian Lama? Praktek penyembahan kepada tentara langit juga dilakukan oleh orang-orang Israel di jaman dahulu. Salah satunya, mungkin, bernama Asyera dan Baal. Walau demikian, belum tentu juga bahwa Asyera ini adalah salah satu dari Tentara Langit, karena mungkin saja selain tentara langit ada juga dewa lain yang disembah oleh orang Israel yakni yang disebut dengan Asyera dan Baal.

Mereka telah meninggalkan segala perintah TUHAN, Allah mereka, dan telah membuat dua anak lembu tuangan; juga mereka membuat patung Asyera, sujud menyembah kepada segenap tentara langit dan beribadah kepada Baal. (2Raja-Raja 17:16)

Ia mendirikan kembali bukit-bukit pengorbanan yang telah dimusnahkan oleh Hizkia, ayahnya; ia membangun mezbah-mezbah untuk Baal, membuat patung Asyera seperti yang dilakukan Ahab, raja Israel, dan sujud menyembah kepada segenap tentara langit dan beribadah kepadanya. (2Raja-Raja 21:3)

Menurut mitologi bangsa Kanaan dan Israel, Baal adalah dewa hujan, putra dari El. Baal mengalahkan dewa laut Yam dan membangun untuk dirinya sebuah kuil di bukit Saphon. Baal kemudian menyatakan dirinya tidak lagi berada di bawah kekuasaan Mot, dewa kematian. Sementara itu Asyera (atau dalam bahasa Inggris: Asherah) adalah figur dewi (wanita) dan sering disebut sebagai "In Wisdom the Mistress of the Gods" dan "Creator of the Gods" Mungkin sekali dalam mitologi Yunani, Asyera ini bisa disamakan dengan Hera. Nampaknya ada kemiripan lafal antara Asherah dengan Hera. Patung Asyera ini sering ada di kuil pemujaan dewa Baal, antara lain di Ras Shamrah. Asherah atau Asheroth memang seringkali berkaitan dengan Baal. Asyera juga merupakan dewi kesuburan.

Uniknya, penyembahan terhadap tentara langit juga dilangsungkan bersamaan dengan penyembahan orang Israel kepada Tuhan mereka, Yhwh. Dalam 2Raja-Raja 21:5 tertulis: Dan ia mendirikan juga mezbah-mezbah bagi segenap tentara langit di kedua pelataran rumah TUHAN.

Pada masa itu (pada jaman imam besar Hilkia), orang Israel (dan bangsa Kanaan) umumnya menyembah dewa Baal, Asyera, dewa matahari, dewa bulan, persembahan untuk rasi-rasi bintang dan untuk segenap tentara langit. (2Raja-Raja 23:4-5)

Dalam beberapa teks perjanjian lama, nama dewa Baal, Asyera sering disebut bersama-sama dengan tentara langit. Misalnya pada 2Tawarikh 33:3 : Ia mendirikan kembali bukit-bukit pengorbanan yang telah dirobohkan oleh Hizkia, ayahnya; ia membangun mezbah-mezbah untuk para Baal, membuat patung-patung Asyera dan sujud menyembah kepada segenap tentara langit dan beribadah kepadanya.

Tentang jumlahnya, nampaknya tentara langit ini cukup banyak. Artinya bukan hanya terdiri dari satu atau dua oknum saja. Hal ini diungkap di Kitab Yeremia  33:22:

"Seperti tentara langit tidak terbilang dan seperti pasir laut tidak tertakar, demikianlah Aku akan membuat banyak keturunan hambaKu Daud dan orang-orang  Lewi yang melayani Aku."

Untuk studi banding, saya membuka buku "Indeks Al Quran" untuk mencari kata Tentara Langit. Ternyata saya menemukan bahwa Tentara Langit juga terdapat dalam Al Quran, yaitu terdapat dalam Surat Al Fat-h (48:4 dan 48:7)

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang muk'min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (48:4)

Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (48:7)

Di bawahnya terdapat catatan kaki tentang tentara langit: Yang dimaksud dengan tentara langit dan bumi ialah penolong yang dijadikan Allah untuk orang-orang muk'min seperti malaikat-malaikat, binatang-binatang, angin taufan dan sebagainya.
**Al Qur'an dan terjemahannya (Juz 1 - Juz 30) Departemen Agama RI.

Tentang dewa Baal dan Asyera (dlm bahasa Inggris: Asherah)dapat lihat di:

  1. "Gods and Men: Myths and Legends from the World's Religions"
  2. "The Baal (and the Asherah?) in Seventh-Century Judah"
  3. "Asherah"

Tentara Langit dan Tentara Sorga

Apakah tentara langit ini sama dengan tentara sorga? Tentang tentara sorga ini terdapat dalam: 2Tawarikh 18:18  dan Injil Lukas 2:13

Kata Mikha: "Sebab itu dengarkanlah firman TUHAN. Aku telah melihat TUHAN sedang duduk di atas takhtaNya dan segenap tentara sorga berdiri di sebelah kananNya dan di sebelah kiriNya. (2Taw 18:18)
Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: " Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya." (Lukas 2:13-14)

Selain itu, dalam malaikat-malaikat juga sering dinamakan bala tentara Allah. Dalam kitab Kej 32:2, Ketika Yakub melihat mereka, berkatalah ia: "Ini bala tentara Allah." Sebab itu dinamainyalah tempat itu Mahanaim. (waktu itu Yakub 'bermimpi' melihat di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu. (Kejadian 28:12))

Salah satu tindakan yang dilakukan oleh tentara Allah ini yang pernah tercatat di perjanjian lama adalah membantai 185.000 orang di perkemahan Asyur. Selain itu, dua malaikat pernah datang ke Sodom dan Gomora untuk menghukum serta menghancurkan kedua kota itu. Entah dengan cara bagaimana dan menggunakan senjata pembunuh massal macam apa.

Maka pada malam itu keluarlah Malaikat TUHAN, lalu dibunuhNyalah seratus delapan puluh lima ribu orang di dalam perkemahan Asyur. Keesokan harinya pagi-pagi tampaklah, semuanya bangkai orang-orang mati belaka! (2RAJ 19:35)
Kemudian Tuhan, menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora,
berasal dari TUHAN, dari langit. (KEJ  19:24)

Walau demikian, tentara langit dengan bala tentara Allah tidak bisa dianggap sama. Tentara langit nampaknya merupakan kumpulan kesatuan yang bersifat jahat atau buruk, yang tidak disukai oleh Allah. Dan dari beberapa ayat dalam perjanjian lama, di mana dewa Baal sering disebut bersamaan dengan tentara langit, agaknya dewa Baal merupakan kepala atau pemimpin dari
tentara langit.

Mereka telah meninggalkan segala perintah TUHAN, Allah mereka, dan telah membuat dua anak lembu tuangan; juga mereka membuat patung Asyera, sujud menyembah kepada segenap tentara langit dan beribadah kepada Baal. (2 Raja-Raja 17:16)
Fakta lain bahwa Baal adalah pemimpin para tentara langit dapat dilihat pada Injil Matius 9:34.

Tetapi ketika orang Farisi mendengarnya, mereka berkata: "Dengan Beelzebul, penghulu setan, Ia mengusir setan." (Matius  9:34)  Bila Beelzebul penghulu setan, sementara Baal pemimpin tentara langit, berarti apakah tentara langit adalah sama dengan setan (roh-roh jahat)?

Jadi, tentara langit merupakan deity yang ingin berkuasa atas manusia atau ingin disembah manusia, sementara tentara sorga (tentara Allah) merupakan malaikat-malaikat yang setia kepada Allah. Tentang hal ini juga diungkap dalam Mazmur 82:1.

"Allah berdiri dalam sidang ilahi, di antara para allah Ia menghakimi."

Aku sendiri telah berfirman: "Kamu adalah allah, dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian, namun seperti manusia kamu akan mati dan seperti salah seorang pembesar kamu akan tewas." (Mazmur 82:6-7)

Pernyataan dalam kitab Mazmur 82:6-7 ini bila menunjukkan kepada keberadaan allah atau dewa-dewa atau tentara langit, maka keberadaan mereka tidaklah kekal. Artinya, mereka bisa mati. Kalaupun eksistensi tentara langit dengan tentara Allah itu bersumber dari kesatuan yang sama (dalam pengertian bahwa tentara langit semula adalah tentara Allah yang memberontak), berarti tentara Allah atau malaikat juga bisa mati.

Segenap tentara langit akan hancur, dan langit akan digulung seperti gulungan kitab, segala tentara mereka akan gugur seperti daun yang gugur dari pohon anggur, dan seperti gugurnya daun pohon ara. (Yesaya  34:4)

Apakah Tentara Langit merupakan makhluk luar angkasa?

Istilah nama Tentara Langit dalam perjanjian lama sebenarnya sudah menunjukkan bahwa mereka dari bintang-bintang. Tentara langit ini merupakan suatu makhluk hidup, yang bisa mati dan nampaknya mereka mempunyai keinginan agar keberadaan mereka disembah oleh manusia sebagai suatu kekuatan yang bisa menentukan nasib manusia. Namun benarkah tentara langit itu berasal dari bintang-bintang? Suatu ayat dalam kitab Daniel menjelaskan akan hal ini:

Ia menjadi besar, bahkan sampai kepada bala tentara langit, dan bala tentara itu, dari bintang-bintang, dijatuhkannya beberapa ke bumi, dan diinjak-injaknya. (Daniel  8:10)


Dikatakan dalam kitab Daniel tersebut bahwa bala tentara langit itu berasal dari bintang-bintang. Dengan demikian, merupakan suatu fakta bahwa tentara langit itu merupakan makhluk dari luar angkasa atau merupakan alien (ET).

Dijelaskan pula dalam Perjanjian Lama bahwa Tuhan-lah yang menciptakan segala sesuatu, termasuk menciptakan tentara langit tersebut. Ada tertulis dalam kitab Nehemia:

"Hanya Engkau adalah TUHAN! Engkau telah menjadikan langit, ya langit segala langit dengan segala bala tentaranya, dan bumi dengan segala yang ada di atasnya, dan laut dengan segala yang ada di dalamnya. Engkau memberi hidup kepada semuanya itu dan bala tentara langit sujud menyembah kepadaMu...." (Neh 9:6)

Hal yang sama juga diungkapkan dalam kitab Yesaya 40:26  di mana ada tertulis:

Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya? Satupun tiada yang tak hadir, oleh sebab Ia maha kuasa dan maha kuat. (Yes 40:26)

Fakta lain tentang tentara langit ini merupakan suatu kesatuan yang banyak dan besar serta menginginkan agar keberadaan mereka disembah oleh manusia adalah petunjuk bahwa jumlah mereka yang sangat besar (dalam Yeremia 33:22) serta pada jaman dahulu keberadaan mereka disembah disamping manusia menyembah matahari dan bulan.

...dan diserahkan di depan matahari, di depan bulan dan di depan segenap tentara langit yang dahulunya dicintai, diabdi, diikuti, ditanyakan dan disembah oleh mereka. Semuanya itu tidak akan dikumpulkan dan tidak akan dikuburkan; mereka akan menjadi pupuk di ladang. (Yeremia  8:2)

Petunjuk di atas menggambarkan bahwa keberadaan tentara langit di masa lalu adalah dicintai, diabdi, diikuti, ditanyakan sekaligus disembah. Hanya saja, tindakan manusia menyembah tentara langit ini tidak disukai oleh Tuhan. Karena sebenarnyalah tentara langit ini juga harus menyembah Tuhan sebagai penciptanya.

Kembali kepada persoalan, bila memang benar bahwa tentara langit ini merupakan makhluk cerdas dari luar angkasa (dari bintang/planet lain), maka kunjungan para alien itu sudah dimulai sejak jaman dahulu kala. Dan boleh jadi, sebagian dari mereka kemudian menetap di bumi ini dan bergaul dengan manusia lain. Suatu ayat dalam perjanjian lama menceritakan bahwa pada jaman dahulu, anak-anak allah bergaul dan mengambil anak-anak perempuan manusia sebagai isterinya sehingga melahirkan manusia-manusia yang gagah perkasa di masa itu. Ini dikisahkan dalam kitab Kejadian 6:4.

Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan. (Kej 6:4)

Kisah di atas, salah satunya bila dikaitkan dengan mitologi Yunani, maka perkawinan antara dewa Zeus dengan wanita bumi melahirkan Hercules yang merupakan manusia gagah perkasa. Demikian juga kisah kelahiran Simson, di mana orang tuanya (Zora dan Manoah) yang mandul dan tidak punya anak, memohon kepada Tuhan agar dikaruniai anak. Kemudian malaikat Tuhan menampakkan diri kepada perempuan itu (Manoah) dan mengatakan bahwa: "Memang engkau mandul, tidak beranak, tetapi engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki..." (Hakim-Hakim 13:3) Lahirlah kemudian Simson, manusia yang kuat dengan syarat bahwa  dia tidak boleh minum anggur atau minum minuman yang memabukkan serta tidak boleh dicukur rambut kepalanya.

Dengan kemampuan yang dimiliki malaikat Tuhan itu, maka wanita yang mandul bisa mempunyai anak. Ini juga terjadi pada Sara (istri Abraham/nabi Ibrahim) yang juga dikatakan mandul dan akhirnya mempunyai anak di masa tuanya. Persoalannya, di masa kini, dengan teknologi bayi tabung atau inseminasi buatan memang bisa dilakukan hal serupa. Ditambah lagi dengan adanya bank sperma, sehingga setiap wanita yang mau punya anak bisa punya anak meskipun tidak punya suami/bersetubuh.

Keberadaan tentara langit di masa lalu selain dialami oleh bangsa Israel kuno, bisa jadi juga dialami oleh bangsa-bangsa lain yang hidup di masa itu, misalnya seperti bangsa Mesir, Sumeria, Kanaan dan Babylonia.

Di Mesir mereka memuja beberapa figur dewa dengan kepala binatang, misalnya Horus yang berkepala burung (burung Falcon), Anubis yang berkepala serigala (dalam mitologi Yunani diidentifikasi sama  dengan Hermes), Ra yang digambarkan mempunyai muka seperti burung rajawali (hawk), Hathor digambarkan berkepala sapi, Mut berkepala seperti burung nasar, Thoth berkepala burung bangau, sementara Ptah berkepala manusia (namun kadangkala berupa lembu jantan/inkarnasi dalam bentuk lembu jantan yang disebut dengan nama Apis).  (Sumber: Microsoft Encarta 98 Encyclopedia)

Sebagai tambahan, di Indonesia dikenal dewa berkepala gajah bernama Ganesha (dari mitologi India/Hindu). Selain itu ada juga Hanoman atau Hunuman yang berwajah kera, yang meski bukan dianggap dewa namun punya kemampuan untuk terbang.

Pertanyaannya, apakah mereka sekedar menggunakan topeng dalam bentuk hewan, ataukah mereka memang berwajah seperti itu? Dalam film Stargate, para dewa Mesir ini digambarkan sebagai makhluk dari luar angkasa yang memakai topeng-topeng dalam bentuk seperti itu yang dapat dilepas atau dibuka. Saat inipun, upaya mempelajari piramid Mesir tetap dilakukan dan nampaknya ada tulisan hiroglip yang menjelaskan bahwa ada jalan menuju ke bintang yang berupa pintu gerbang surga (heaven gate) atau yang saat ini juga ditafsirkan sebagai jalan menuju ke bintang (star-gate).

Malaikat, Kerub, Serafim dan Iblis

Selain Tentara Langit, makhluk lain yang berasal dari langit dan mampu terbang adalah malaikat, iblis, kerub dan Serafim. Saya akan mencoba membahas satu per satu tentang keberadaan ke empat makhluk ini secara garis besar saja.

Untuk yang pertama, saya akan membahas tentang keberadaan malaikat yang banyak diceritakan dalam perjanjian lama maupun perjanjian baru.

Salah satu ayat di perjanjian lama tentang malaikat:

Kemudian bergeraklah Malaikat Allah, yang tadinya berjalan di depan tentara Israel, lalu berjalan di belakang mereka; dan tiang awan itu bergerak dari depan mereka, lalu berdiri di belakang mereka. (Keluaran 14:19)

Salah satu ayat di perjanjian baru tentang malaikat:

Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya. (Matius 28:2)
Jelas bahwa malaikat berasal dari langit dan bukan berasal dari bumi. Ada satu hal yang menarik dari malaikat ini, yaitu:

Dan Malaikat TUHAN mengulurkan tongkat yang ada di tanganNya; dengan ujungnya disinggungNya daging dan roti itu; maka timbullah api dari batu itu dan memakan habis daging dan roti itu. Kemudian hilanglah Malaikat TUHAN dari pandangannya. (Hakim-Hakim 6:21)

Jadi malaikat itu digambarkan mempunyai sebuat tongkat (senjata ?) yang ujungnya bila ditempelkan ke daging dan roti kemudian bisa timbul api dan membuat daging dan roti itu habis. Apakah tongkat yang dibawa malaikat itu sama dengan tongkat Musa?

Kemudian Musa mengajak istri dan anak-anaknya lelaki, lalu menaikkan mereka ke atas keledai dan ia kembali ke tanah Mesir; dan tongkat Allah itu dipegangnya di tangannya. (Keluaran 4:20)
Musa berkata kepada Yosua: "Pilihlah orang-orang bagi kita, lalu keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit itu dengan memegang tongkat Allah di tanganku." (Kel  17:9)

Dari ayat ini bisa diambil kesimpulan bahwa tongkat yang dibawa oleh nabi Musa adalah merupakan tongkat Allah atau tongkat pemberian dari Allah.

Selain tongkat, nampaknya malaikat juga mempunyai senjata lain, yaitu pedang. Ini dapat dijumpai di: Kemudian TUHAN menyingkapkan mata Bileam; dilihatnya Malaikat TUHAN dengan pedang terhunus di tanganNya berdiri di jalan, lalu berlututlah ia dan sujud. (Bilangan  22:31)

Malaikat Tuhan nampaknya juga mempunyai tugas untuk melakukan eksekusi (bahkan eksekusi massal), misalnya dalam peristiwa penghancuran kota Sodom dan Gomora (Kej 19:24), pembunuhan anak sulung bangsa Mesir (Kel 11:5), membunuh 185 ribu di perkemahan Asyur (2Raj 19:35).

Tentang pakaian malaikat, agaknya secara umum malaikat digambarkan berpakaian lenan (warna putih) dengan ikat pinggang berwarna emas. Ini bisa dijumpai di  Daniel 10:5 dan Wahyu 15:6. Perjumpaan Yehezkiel (Ezekiel) dengan malaikat juga digambarkan sebagai orang yang berpakaian lenan. Tradisi berpakaian lenan ini tampaknya dilakukan juga oleh suku Lewi, di mana suku ini merupakan suku pilihan di antara bangsa Israel yang khusus melayani Tuhan. DalamInjil Yohanes 20:12  juga ada tertulis: dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring.

Jadi, secara umum, nampaknya malaikat terlihat berpakaian putih.

Apakah malaikat bersayap? Sejauh ini menurut penggambaran di Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, malaikat diceritakan tanpa sayap. Makhluk yang digambarkan bersayap adalah Kerub dan Serafim.

Tentang Kerub, merupakan suatu makhluk dengan dua sayap dan bisa terbang.

Ia mengendarai kerub, lalu terbang, dan tampak di atas sayap angin. (2 Samuel 22:11)
Jadi kerub-kerub itu mengembangkan kedua sayapnya di atas tempat tabut itu, sehingga kerub-kerub itu menudungi tabut serta kayu-kayu pengusungnya dari atas. (2 Tawarikh 5:8)

Dari 2Samuel 22:11, nampaknya kerub merupakan sebuah kendaraan. Mengenai kerub ini, timbul pertanyaan, apakah kerub ini tidak sama dengan Buraq yang merupakan binatang (?) bersayap yang membawa nabi Muhammad SAW terbang? Dilihat dari namanya: kerub dengan buraq, nampaknya ada kemiripan lafal.

Lain halnya dengan kerub, serafim merupakan makhluk bersayap enam. Tentang serafim bisa dijumpai di kitab Yesaya saja.

Para Serafim berdiri di sebelah atasNya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang. (Yesaya 6:2)

Jelas keberadaan makhluk-makhluk yang mampu terbang dan bukan berasal dari bumi ini menunjukkan adanya kehidupan lain di luar bumi ini. Tentang iblis, nampaknya ada perbedaan antara kitab Injil dengan Al Quran tentang keberadaannya. Menurut Injil, Iblis adalah malaikat yang jatuh karena ingin mengambil alih kekuasaan Allah, sementara menurut Al Quran, Iblis dianggap tidak patuh kepada Allah karena tidak mau menuruti perintah Allah untuk bersujud kepada Adam. Menurut Al Quran, iblis adalah dari golongan jin yang diciptakan dari api, sementara malaikat diciptakan dari cahaya.

Iblis juga merupakan makhluk yang bisa terbang dan asalnya juga dari langit. Beberapa ayat tentang iblis:

Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Dari mana engkau?" Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi." (Ayub 1:7)
Lalu kata Yesus kepada mereka: "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit." (Lukas 10:18)
Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datang juga Iblis untuk menghadap TUHAN. (Ayub 2:1)
Dan Iblis membawaNya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepadaNya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya... (Matius 4:8)

Selain makhluk-makhluk yang bukan berasal dari bumi itu, yakni malaikat, kerub, serafim dan iblis, dalam perjanjian lama juga ada makhluk lain yang disebut/dinamakan jin.

...tetapi yang akan berbaring di sana ialah binatang gurun, dan rumah-rumah mereka akan penuh dengan burung hantu; burung-burung unta akan diam di sana, dan jin-jin akan melompat-lompat.. (Yesaya  13:21)
Jin-jin akan diam di dalamnya, dan para pemukanya akan tidak ada lagi; tidak ada lagi di sana yang dimaklumkan sebagai raja, dan semua pemimpinnya sudah lenyap. (Yesaya 34:12)
Di sana berpapasan binatang gurun dengan anjing hutan, dan jin bertemu dengan temannya; hantu malam saja ada di sana dan mendapat tempat perhentian. (Yesaya  34:14)

Nampaknya mengenai jin ini adalah makhluk yang berada di bumi dan diceritakan pula bahwa ada juga praktek menyembah jin.

...dan mengangkat bagi dirinya imam-imam untuk bukit-bukit pengorbanan untuk jin-jin dan untuk anak-anak lembu jantan yang dibuatnya. (2Tawarikh 11:15)

Informasi tentang jin ini sangat terbatas di Alkitab. Di dalam Al Quran, informasi tentang jin ini jauh lebih banyak.


Persembahan untuk YHWH, Baal dan Tentara Langit

Nampaknya setiap acara ritual keagamaan selalu ada tradisi memberi persembahan kepada Tuhan atau dewa-dewa yang disembahnya. Tradisi memberi persembahan kepada Yhwh atau Tuhan untuk pertama kalinya dicatat dalam perjanjian lama dilakukan oleh Kain dan Habel, anak-anak Adam dan Hawa.

Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu... (Kejadian 4:3-4)

Setelah Tuhan menampakkan diri kepada Nabi Musa dan menyatakan dirinya, maka Tuhan membuat aturan-aturan dalam memberi persembahan kepada-Nya. Bebetrapa peraturan itu antara lain adalah:

Kemudian haruslah kaubakar seluruh domba jantan itu di atas mezbah; itulah korban bakaran, suatu persembahan yang harum bagi TUHAN, yakni suatu korban api-apian bagi TUHAN. (Keluaran 29:18)
Orang kaya janganlah mempersembahkan lebih dan orang miskin janganlah mempersembahkan kurang dari setengah syikal itu pada waktu dipersembahkan persembahan khusus itu kepada TUHAN untuk mengadakan pendamaian bagi nyawa kamu sekalian. (Keluaran 30:15)
Berkatalah Musa kepada segenap jemaah Israel: "Inilah firman yang diperintahkan TUHAN, bunyinya: Ambillah bagi TUHAN persembahan khusus dari barang kepunyaanmu; setiap orang yang terdorong hatinya harus membawanya sebagai persembahan khusus kepada TUHAN: emas, perak, tembaga, kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi, lenan halus, bulu kambing; kulit domba jantan yang yang diwarnai merah, kulit-kulit lumba-lumba, kayu penaga, minyak untuk penerangan, rempah-rempah untuk minyak urapan dan untuk ukupan dari wangi-wangian, permata krisopras dan permata tatahan untuk baju efod dan untuk tutup dada. (Keluaran 35:4-9)
Maka datanglah mereka, baik laki-laki maupun perempuan, setiap orang yang terdorong hatinya, dengan membawa anting-anting hidung, anting-anting telinga, cincin meterai dan kerongsang, segala macam barang emas; demikian juga setiap orang yang mempersembahkan persembahan unjukan dari emas bagi TUHAN. (Keluaran 35:22)  

Cukup menarik sebenarnya, mengapa Tuhan membutuhkan persembahan berupa barang-barang berharga dan logam-logam mulia. Nampaknya persembahan itu dilakukan sebagai suatu balas jasa atas keselamatan yang diberikan oleh Tuhan. Ini tertuang dalam Kitab Keluaran 30:15, yaitu ada tertulis: "persembahan khusus itu kepada TUHAN untuk mengadakan pendamaian bagi nyawa kamu sekalian."

Selain itu, hal menarik lainnya dalam persembahan korban bakaran, adalah ada dua hal yang amat disukai oleh Tuhan, yakni lemak dan darah. Tentang kedua hal ini dapat diketemukan dalam ayat:

Dengan tangannya sendirilah harus ia membawa segala korban api-apian TUHAN; adapun lemaknya, haruslah dibawanya beserta dadanya, supaya dadanya itu diunjukkan sebagai persembahan unjukan di hadapan TUHAN. (Imamat 7:30)
Kemudian haruslah ia menyembelih lembu itu di hadapan TUHAN, dan anak-anak Harun, imam-imam itu, harus mempersembahkan darah lembu itu dan menyiramkannya pada sekeliling mezbah yang di depan pintu Kemah Pertemuan. (Imamat 1:5)

Mungkin karena alasan bahwa lemak dan darah itu disukai oleh Tuhan sebagai hal yang harus dipersembahkan kepada Tuhan, maka rupanya Tuhan mengeluarkan larangan kepada orang Israel untuk memakan lemak dan darah.

Inilah suatu ketepatan untuk selamanya bagi kamu turun temurun di segala tempat kediamanmu: janganlah sekali-kali kamu makan lemak dan darah." (Imamat 3:17)

Agak berbeda dengan pesembahan kepada Tuhan, pada pemujaan ke Dewa Baal, nampaknya yang diminta sebagai korban persembahan adalah manusia, yakni anak-anak. Beberapa ayat menunjukkan adanya fakta bahwa di masa itu terjadi kebiasaan untuk mengorbankan anak-anak kepada dewa-dewa yang disembahnya.

Mereka telah mendirikan bukit-bukit pengorbanan bagi Baal untuk membakar anak-anak mereka sebagai korban bakaran kepada Baal, suatu hal yang tidak pernah Kuperintahkan atau Kukatakan dan yang tidak pernah timbul dalam hatiKu. (Yeremia 19:5)
Dalam membawa persembahan persembahanmu, yaitu mempersembahkan anak-anakmu sebagai korban dalam api, kamu menajiskan dirimu dengan segala berhala-berhalamu sampai hari ini, apakah Aku masih mau kamu minta petunjuk dari padaKu, hai kaum Israel? Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak mau lagi kamu minta petunjuk dari padaKu. (Yehezkiel 20:31)

Yang menjadi pertanyaan, ketika Abraham (nabi Ibrahim) mendapat perintah dari Tuhan untuk mempersembahkan anaknya (dalam tradisi Islam adalah Ismael, sementara tradisi Kristen, Katolik dan Yahudi adalah Ishak), dari siapakah sebenarnya perintah itu diberikan? Apakah memang benar Tuhan ingin menguji kesetiaan Abraham? Apakah memang tradisi mempersembahkan anak ini sudah terjadi sebelumnya?

FirmanNya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu." (Kejadian 22:2)

Yhwh, Allah orang Israel, digambarkan sebagai Allah yang pencemburu dan mudah sekali murka. Dalam kalau Yhwh sampai murka, maka akibatnya tidak akan baik.

Sebab TUHAN, Allahmu, adalah api yang menghanguskan, Allah yang cemburu. (Ulangan 4:24)
Ketika Israel berpasangan dengan Baal-Peor, bangkitlah murka TUHAN terhadap Israel: lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Tangkaplah semua orang yang mengepalai bangsa itu dan gantunglah mereka di hadapan TUHAN di tempat terang, supaya murka TUHAN yang bernyala-nyala itu surut dari pada Israel." (Bilangan 25:3-4)
Jika demikian, maka akan bangkitlah murka TUHAN terhadap kamu dan Ia akan menutup langit, sehingga tidak ada hujan dan tanah tidak mengeluarkan hasil, lalu kamu lenyap dengan cepat dari negeri yang baik yang diberikan TUHAN kepadamu. (Ulangan 11:17)

Selain itu Yhwh, Allah orang Israel, sangat tidak senang dengan keberadaan dewa-dewa lain yang disembah dan juga dengan tentara langit.

Janganlah engkau sujud menyembah kepada allah mereka atau beribadah kepadanya, dan janganlah engkau meniru perbuatan mereka, tetapi haruslah engkau memusnahkan sama sekali patung-patung berhala buatan mereka, dan tugu-tugu berhala mereka haruslah kauremukkan sama sekali. (Keluaran 23:24)
Maka pada hari itu TUHAN akan menghukum tentara langit di langit dan raja-raja bumi di atas bumi. (Yesaya 24:21)

Pemujaan terhadap tentara langit di masa lalu (jaman nabi Musa) nampaknya masih tetap diingat walau sampai pada jaman setelah Yesus lahir. Bahkan beberapa sekte setan sampai saat ini masih ada yang menyembah dewa Baal. Dalam Kisah Para Rasul ada tertulis:

Maka berpalinglah Allah dari mereka dan membiarkan mereka beribadah kepada bala tentara langit, seperti yang tertulis dalam kitab nabi-nabi: Apakah kamu mempersembahkan kepadaKu korban sembelihan dan persembahan selama empat puluh tahun di padang gurun itu, hai kaum Israel? (Kis 7:42)

Benarkah mereka datang dari Luar Angkasa?

Dalam pembahasan terdahulu sebuah ayat dalam Perjanjian Lama menyebutkan bahwa tentara langit berasal dari bintang-bintang.

Ia menjadi besar, bahkan sampai kepada bala tentara langit, dan bala tentara itu, dari bintang-bintang, dijatuhkannya beberapa ke bumi, dan diinjak-injaknya. (Daniel  8:10)

Pertanyaannya, apakah memang ada kehidupan di bintang-bintang atau di luar angkasa? Apakah keberadaan tentara langit itu cuma rekayasa atau fantasi manusia saja? Banyak teori antropologi yang mengatakan bahwa dewa-dewi jaman dahulu hanya merupakan pengambaran manusia akan sesuatu pribadi yang lebih berkuasa dari manusia. Apakah itu memang cuma sekedar penggambaran manusia, ataukah sesungguhnya memang telah datang para tamu dari angkasa luar yang kini sering disebut dengan UFO?

Tentang keberadaan tentara langit ini dalam perjanjian lama sering disebutkan dalam kalimat-kalimat yang dikemukakan oleh Tuhan sendiri (Allah orang Israel atau Yahweh). Persoalannya, sejauh mana kita memandang perkataan Yahweh itu hanya kata-kata kiasan atau penggambaran manusia saja, atau memang merupakan suatu fakta yang tidak perlu diragukan kebenarannya.

"Apabila di tengah-tengahmu di salah satu tempatmu yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, ada terdapat seorang laki-laki atau perempuan yang melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, Allahmu, dengan melangkahi perjanjianNya, dan yang pergi beribadah kepada allah lain dan sujud menyembah kepadanya, atau kepada matahari atau bulan atau segenap tentara langit, hal yang telah Kularang itu..." (Ulangan 17:2-3)

Larangan Tuhan untuk menyembah tentara langit dan berhala-berhala lainnya tertuang juga dalam ayat ini: "Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi." (Keluaran 20:4)

Jadi ada tiga bentuk berhala sebagai penggambaran dewa-dewa, yakni pertama yang menyerupai makhluk yang datang dari langit, kemudian yang ada di bumi di bawah (bawah tanah?), dan makhluk yang ada di dalam air di bawah bumi. Apakah memang ada jenis makhluk hidup selain yang dari langit, yaitu yang hidup di dalam (pusat) bumi dan di dasar samudera?

Saat ini, di jaman keemasan teknologi ini, kehadiran UFO nampaknya banyak dilaporkan. Walau keberadaannya belum diakui secara resmi oleh pemerintah dan masih banyak orang yang skeptis terhadap kebenaran adanya UFO ini, namun banyak peristiwa-peristiwa ganjil yang ada di Perjanjian Lama yang mungkin kalau saat ini akan disebut sebagai UFO.

Malaikat, sebagai makhluk yang paling dipercaya eksistensinya, memang bisa menjadi suatu bahan studi yang menarik dan serius. Malaikat memang makhluk yang bisa dianggap berlainan dimensinya dengan dimensi manusia. Menurut agama Islam, malaikat tergolong makhluk gaib, diciptakan dari cahaya. Malaikat juga mampu terbang secepat kilat. Diterangkan dalam Surat Al Ma'aarij:4. "Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun."

Kebenaran adanya malaikat, sebenarnya sudah merupakan suatu bukti bahwa bukan hanya manusia yang menghuni alam semesta ini. Secara nyata dijelaskan bahwa malaikat bukanlah makhluk bumi dan diciptakan sebelum adanya manusia. Dan malaikat juga bukan diciptakan di bumi atau untuk menghuni bumi ini. Malaikat adalah makhluk hidup, merupakan extra-terrestrial life. Persoalannya, memang malaikat hidup di dimensi yang berbeda dengan manusia.

Dari manakah malaikat itu datang? Jelas mereka datang dari luar bumi, menurut petunjuk dari ajaran agama, mereka datang dari sorga.

Pertanyaan selanjutnya, berbedakan entity antara tentara langit dengan malaikat? Bagaimana dengan anak-anak Allah yang dikemukan dalam kitab Kejadian 6:4.

Dalam sebuah surat di Perjanjian Baru, yakni Surat Efesus 6:12 dikatakan:

"...karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara."

Apakah ini merupakan ancaman dari UFO? Siapakah yang dimaksud dengan roh-roh jahat di udara? Dalam Perjanjian Baru disebutkan: Lalu kata Yesus kepada mereka: "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit." (Lukas 10:18) Dalam ajaran Kristen/Katolik, kita selalu diingatkan bahwa akan adanya tokoh AntiKristus, sementara dalam ajaran agama Islam juga diingatkan akan kemunculan Dajjal. Tokoh jahat yang akan mencoba menguasai dunia.

Bila seandainya makhluk angkasa luar itu memang ada dan mereka hadir atau pernah hadir di antara manusia, tentunya ada yang baik dan ada juga yang jahat. Yang baik akan datang dengan ciri persahabatan, sementara yang jahat datang dengan tujuan ingin menguasai, menjajah dan menindas. Boleh jadi mereka (yang jahat) nampak memberikan bantuan pertolongan, namun biasanya akan selalu diikuti dengan permintaan balasan yang mengerikan.

Apakah tentara langit itu masih ada sampai sekarang? Nampaknya menurut Perjanjian Lama, keberadaan mereka masih ada sampai sekarang. Setidaknya, menurut kitab Yesaya tentang akhir jaman disebutkan: "Segenap tentara langit akan hancur, dan langit akan digulung seperti gulungan kitab, segala tentara mereka akan gugur seperti daun yang gugur dari pohon anggur, dan seperti gugurnya daun pohon ara." (Yesaya 34:4) Mereka dinubuatkan akan mengalami kehancuran, tapi mereka saat ini masih ada.

Yang menjadi pertanyaan, apakah tentara langit itu merupakan entity yang jahat? Dalam kitab Yeremia 8:2 ada tertulis: "...dan diserahkan di depan matahari, di depan bulan dan di depan segenap tentara langit yang dahulunya dicintai, diabdi, diikuti, ditanyakan dan disembah oleh mereka." Berarti di masa lalu, keberadaan tentara langit itu dicintai dan disembah. Keberadaan ini menunjukkan bahwa mereka hadir dengan diterima secara baik. Apakah dengan adanya petunjuk tentang tentara langit dalm ayat ini mengungkapkan bahwa mereka adalah entity yang baik sehingga mereka dicintai? Namun rupanya pada perkembangannya, sebagian tentara langit ini menjadi entity yang jahat dan ingin menguasai pihak lain.

Tentara langit, malaikat, kerub, serafim dan iblis, merupakan makhluk-makhluk yang tidak berasal dari bumi. Namun keberadaan mereka diungkapkan secara nyata dalam Alkitab. Jelas bahwa tentara langit itu datang dari bintang-bintang (Yesaya 40:26 & Daniel 8:10) dan jumlahnya sangat banyak (Yeremia 33:22). Mereka tidak cuma datang dari satu bintang melainkan dari bintang-bintang.

Penutup

Banyak pertanyaan yang muncul tentang tentara langit ini:
1. Benarkah mereka benar-benar ada?
2. Di manakah mereka saat ini?
3. Akankah mereka kembali ke bumi?
4. Apakah keberadaan mereka sama dengan dimensi kita (manusia)?

Pertanyaan-pertanyaan di atas tentunya tidak bisa dijawab dengan mudah. Keberadaan para dewa di jaman dahulu saat ini cuma merupakan legenda dan mitos. Namun, kita yang hidup saat ini sangat mempercayai apa yang tertulis dalam kitab suci agama kita, sebagai Firman Allah yang benar. Mungkin bagi orang yang tidak percaya akan menganggap cerita dalam kitab suci cuma merupakan mitos atau legenda atau karangan imajinasi orang jaman dahulu.

Bagaimana dengan mitologi Yunani? Bagaimana dengan dewa-dewa dalam kisah pewayangan (Hindu)? Benarkah para dewa di jaman dahulu punya istana di puncak gunung (Sinai, Olympus dan Himalaya)? Bila memang benar jaman dahulu manusia bisa berkomunikasi dengan para malaikat atau para dewa, mengapa di jaman ini tidak ada lagi? Ataukah kita yang tidak bisa percaya bila ada orang yang mengatakan bahwa dirinya telah bertemu dengan malaikat?

Di Kitab Wahyu ada tertulis mengenai beberapa jenis malaikat. Ada malaikat yang berkuasa atas api (Wahyu 14:18) ada yang berkuasa atas air (Wahyu 16:5), ada yang disebut dengan malaikat jurang maut (Wahyu 9:11) yang namanya dalam bahasa Yunani ialah Apolion.

Apakah malaikat yang berkuasa atas api, air dan jurang maut ini tidak sama dengan dewa-dewa yang berkuasa atas air (dewa air atau dewa laut), api (dewa api) dan jurang maut (dewa alam baka)? Pertanyaannya, apakah malaikat itu sebenarnya sama dengan para dewa yang disembah oleh banyak bangsa-bangsa di jaman dahulu?

Dari semua ini nampaknya ada suatu kenyataan bahwa keberadaan manusia di bumi ini tidaklah sendirian. Banyak makhluk dari luar bumi yang berusaha untuk menguasai manusia dan bumi ini. Namun mungkin sampai saat ini manusia (bumi) masih dilindungi. Seperti ada tertulis dalam kitab Mazmur: "sebab malaikat-malaikatNya akan diperintahkanNya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu." (Mazmur 91:11)

-selesai-

Surabaya, 11 Desember 1997