Jumat, 28 September 2018

Review buku The Cygnus Mystery, karya Andrew Collins

Oleh Dino Michael


Kali ini saya akan mereview buku yang sangat menarik tentang asal-usul manusia secara kosmik. Buku itu berjudul The Cygnus Mystery, oleh Andrew Collins.  Collins menelitinya dimulai dari sisa bangunan arkeologis Gobekli Tepe yg berada di selatan Turki. Dengan program komputer astronomi, ia melihat bangunan itu di mana pada th 9500 SM rupanya mengarah ke utara yang terdapat konstelasi bintang Cygnus, khususnya bintang Deneb, yang merupakan paling terang dari Cygnus. Bintang Deneb rupanya juga berpengaruh pada suku indian di Amerika dan juga pada astronomi bangsa Arab, termasuk piramid di Giza.

Orang Indian menggambarkan Cygnus dengan gambar burung atau angsa (swan). Di Inggris, tempat seperti di Newgrange atau Avebury, juga terdapat bangunan kuno yang berorientasi ke bintang Cygnus. Begitu juga di Amerika selatan dan latin seperti di La-Venta dan Cuzo. Di dalam lukisan-lukisan gua di Eropa terdapat gambar yang menunjukkan bintang Cygnus. Bintang Cygnus diyakini sebagai akar dari semua agama di dunia. Orang-orang zaman dulu meyakini konstelasi bintang itu sebagai asal mula dan tujuan terakhir untuk jiwa (soul).

Dalam penelitian NASA mereka menemukan bahwa sinar kosmik ray dari bintang Cygnus rupanya membantu mempercepat evolusi manusia selama zaman es. Ini yang menjelaskan adanya lompatan mendadak mengenai perubahan fisik manusia. Pancaran itu merupakan aktivitas yang sering terjadi di Cygnus X-3, dan memiliki periode juga. Yang masih menjadi pertanyaan bagi fisikawan bagaimana pancaran itu bisa menembus dinding gua. Sinar itu berupa partikel neutron. Dan yang menarik sinar itu bisa dilihat dalam kegelapan yang amat pekat.

Di dalam dinding gua-gua, dimana orang-orang dulu tinggal, terdapat bekas-bekas seperti radiasi atom, yang setelah ditelusuri rupanya berasal dari pancaran sinar dari bintang yang disebut Cygnus X-3. Collins menduga kalau pelukis-pelukis di gua pernah melihat pancaran ini di dalam gua yang amat gelap. Carl Sagan, di th 1973, pernah menyatakan kalau sinar kosmik ikut memicu evolusi manusia.
Di bab 19 ada kata "alien", tapi Collins mengatakan sampai sejauh ini belum ada indikasi kuat dalam catatan arkeologis mengenai intervensi alien dalam evolusi manusia. Collins masih terbuka untuk itu karena ia melihat banyak mitologi di seluruh dunia memiliki kisah bahwa masyarakatnya berasal dari luar angkasa. Dan yang amat menarik, Collins menyebut juga kisah mitologi di Indonesia seperti di daerah Toraja mengenai masyarakatnya yang katanya adalah keturunan dari luar angkasa. Mereka percaya leluhur datang dari langit dan banyak sekali kisah mitos seperti itu di seluruh dunia.

Bab 21, Children of the Swan, bisa dibilang "jawaban" mengapa para leluhur kita percaya akan peranan bintang Cygnus. Di bab ini dibahas mengenai misteri bintang Cygnus X-3, sinar kosmik pada zaman es (Ice Age), radiasi kosmik dan evolusi manusia. Bagi yang ingin tahu langsung inti dari buku ini, bisa membaca bab ini. Kesimpulan dari buku ini. Orang-orang zaman dulu (ancestors) meyakini bahwa kehidupan di bumi berasal dari bintang2 di angkasa. Menurut NASA, pancaran sinar Cygnus di masa itu sangat kuat. Buku ini lebih banyak menyorot ke spiritisme, seperti kosmogenesis Maya, Mesir, dan lain-lain.

Bagi yang berminat, bisa melihat referensi video ini: