Kamis, 19 September 2019

Entitas Non Fisik: Antara makhluk ET, astral dan peradaban yang hilang

Sebuah pandangan pribadi.

Oleh: Nur Agustinus


Pendahuluan

Tidak mudah membahas sesuatu yang tidak bisa kita indera, sesuatu yang tidak kasat mata atau fenomena yang bersifat metafisika. Tidak semua orang punya pengalaman yang sama. Belum lagi, bagaimana kita bisa memverifikasi eksistensi dari entitas nonfisik ini? Bagi seseorang, hal itu merupakan kenyataan dan kebenaran, tapi belum tentu bagi yang lain. Akhirnya, hal ini menjadi sebuah kepercayaan saja, bukan sesuatu yang bisa diuji dan diamati secara bersama.

Semua pengalaman metafisika tentu punya makna sendiri-sendiri bagi yang mengalaminya. Ludwig Wittgenstein, seorang filsuf Austria, berkata bahwa sesuatu itu bermakna sejauh kita memiliki gambaran situasi yang akan membuat kita berkata: ya, itu benar, saya baru saja memverifikasinya. Seperti halnya dalam fenomena UFO, bagi orang yang pernah melihatnya langsung, maka dia akan mempunyai keyakinan bahwa UFO itu memang nyata ada. Demikian juga untuk fenomena metafisika lain seperti melihat hantu, pengalaman diculik makhluk alien, dan lain sebagainya. Namun sekali lagi, bagi yang tidak percaya karena belum mengalami, hal itu belum menjadi realitas bagi dirinya.

Hal ini pernah ditulis oleh Ujang Ti Bandung di Kompasiana dengan judul “Mengapa Metafisika Menjadi Sedemikian Rumit Tuan Derrida?“ bahwa hakikat dunia metafisika atau dunia non fisik itu adalah 'realitas'. Namun sebelumnya harus memiliki pemahaman dasar terhadap makna 'realitas' yaitu bahwasanya realitas itu terbagi kepada dua dimensi antara yang fisik-non fisik, material-non material. Memang akan sulit memahami metafisika jika berangkat dari realitas obyektif sebagai pegangan. Namun agar tidak tersesat, tetap disarankan oleh Ujang Ti Bandung agar berpegangan pada realitas obyektif yang mudah ditangkap oleh semua orang itu, karena tidak seperti ide-gagasan atau persepsi manusia,realitas itu tidak bisa bias atau menipu.

Yang sering menjadi pertentangan dalam sebuah diskusi tentang metafisika, ada yang berpandangan bahwa 'realitas itu adalah sebatas segala suatu yang dapat dijangkau oleh pengalaman' dan diluar jangkauan pengalaman tidak dianggapnya sebagai realitas. Tentu, ada banyak orang yang tidak memiliki pengalaman metafisika dan kemudian menganggap fenomena itu bukan realitas.

Sebagai contoh, misalnya saya bertanya kepada istri saya,  apakah masih ada roti di lemari makan? Kemudian ia menjawab, ya masih ada satu bungkus. Apakah jawaban ini masuk akal? Ya, pertama, saya tahu apa artinya satu bungkus itu, dan kedua, saya bisa memeriksanya sendiri dengan melihat ke lemari makan dan saya akan menemukan satu bungkus roti di sana. Tapi, bagaimana dengan orang yang mengatakan bahwa dia melihat hantu? UFO? Atau mengalami pengalaman keluar dari tubuh (Out of body experience/OBE)? Bagaimana saya bisa mempercayainya? Umumnya, saya mempercayai lebih karena kredibilitas orang yang mengatakan, atau sebelumnya saya sudah memiliki keyakinan yang sama. Jika tidak, tentu saya akan menuntut sebuah bukti. Repotnya, bukti ini menjadi sulit untuk dihadirkan ketika hal itu menjadi sebuah pengalaman pribadi orang tersebut dan tidak bisa dilakukan pada diri kita sendiri.  Sesuatu itu bisa kita anggap masuk akal, sebenarnya adalah tergantung dari apakah argumentasi atau bukti yang diberikan cukup bagi kita atau tidak.

Manusia sendiri  memiliki kesadaran dan kemampuan berpikirnya melampaui batasan fisiknya. Di sini saya ingin membahas tentang entitas metafisik atau non fisik. Apakah sosok non fisik ini hanya merupakan imajinasi dari pikiran manusia saja? Saat ini, banyak orang skeptik terhadap hal non fisik. Misalnya tentang keberadaan roh. Sama halnya, manusia di masa kini sudah banyak yang tidak percaya dengan keberadaan dewa-dewi yang disembah di masa lalu. Bahkan banyak yang meragukan keberadaan surga dan neraka karena dianggap sebagai gambaran ideal dan penghukuman abadi yang tidak nyata ada. Tentu hal ini ada pro dan kontra, sebab banyak orang yang masih mempercayai keberadaannya. Belum lagi, ada pendapat bahwa sejatinya manusia ini adalah makhluk non fisik yang menempati sebuah wadah (badan). Pro dan kontra ini tidak lepas dari perkembangan alam pikiran manusia di masa modern yang membutuhkan bukti empiris. Sementara hal seperti itu memang bukan merupakan realitas obyektif.

Saya tidak akan berlarut-larut dalam pertentangan ini, karena saya lebih pada ingin menyampaikan pandangan pribadi saya tentang entitas metafisik atau non fisik ini. Sebagian besar apa yang menjadi pendapat saya memang merupakan pendapat hipotetis, jadi masih berupa dugaan  dan tidak berlandaskan hasil penelitian ilmiah. Namun saya ingin mengajak untuk berandai-andai dengan “what if”....


Fenomena alien

Pernah ada pertanyaan, apakah ada foto alien, makhluk asing, yang benar-benar meyakinkan dan bisa dipercaya kebenarannya? Terus terang, saya harus mengatakan: tidak ada. Memang, ada beberapa foto bahkan video yang menampilkan figur alien. Ada yang seperti manusia, ada juga berbentuk aneh, dan yang paling umum menampilkan bentuk kepala besar gundul dengan mata hitam besar atau yang sering disebut dengan makhluk greys. Tapi, apakah itu bisa dipercaya? Tentu saja tidak semua orang bisa percaya. Sebagian akan meragukan dan menganggap itu sebagai hoax. Memang, bagaimana kita bisa membuktikan kebenarannya?  Yang hanya bisa kita lakukan adalah percaya atau tidak dengan informasi yang disampaikan. Ini karena sulitnya kita bisa menjangkau kebenaran itu sendiri.

Jika di tahun-tahun 50an hingga 70an, orang banyak yang meyakini adanya makhluk asing dari luar bumi atau yang disebut dengan ET (Extra Terrestrial), belakangan orang berpendapat bahwa ada kemungkinan besar makhluk asing ini berasal dari dimensi lain. Sebagian lainnya mengatakan bahwa makhluk-makhluk ini adalah yang disebut dengan jin. Pendangan seperti ini tentu tidak bisa diketahui apakah benar atau salah. Hal ini karena tergantung dari sudut pandang masing-masing orang yang menginterpretasikannya. Bahkan ketika ada yang mengatakan jika malaikat itu adalah makhluk ET, siapa yang bisa melarang, meski tentu ada juga yang tidak setuju.

Tapi kembali ke fenomena alien ini, yang menjadi pertanyaan awal adalah, apakah alien ini makhluk fisik atau non fisik? Atau, ada kedua-duanya? Artinya, ada yang makhluk fisik dan juga ada yang makhluk non fisik?

Beberapa dokumen-dokumen pemerintah AS tentang keberadaan makhluk asing ini adalah yang menyebut mereka sebagai Extraterrestrial biological entity (EBE). Artinya, mereka dikenali sebagai entitas biologis yang tentunya berarti adalah makhluk fisik. Tentang kebenaran dokumen-dokumen ini sendiri memang masih dipertanyakan. Tapi jika memang dokumen itu benar dan resmi, maka besar kemungkinan memang ada alien yang merupakan entitas fisik.

Di sisi lain, ada juga banyak laporan bahwa ternyata makhluk asing ini adalah makhluk non fisik. Mereka bisa melakukan pengambil-alihan tubuh (body snatcher) dan bisa juga shape shifting (alih rupa). Sebagai contoh, ada banyak orang yang mengaku bahwa dirinya adalah venusian (berasal dari Venus). Mereka bisa difoto seperti Omnec Onec, Val Thor, dan lainnya.

Mungkin penggambaran paling sesuai bisa dilihat di film yang muncul di pertengahan tahun 1980an, yaitu yang berjudul Starman (1984). Film yang dibintangi John Carpenter ini menceritakan tentang alien yang bisa terbang mengambang seperti bola energi bercahaya yang kemudian masuk ke dalam sebuah rambut seseorang yang telah meninggal dunia, lalu membuat klonningnya sehingga dia berwujud seperti manusia tersebut.  Film ini kemudian juga diikuti dengan serial TV sebanyak 22 episode.  Visualisasi di film lain seperti Cocoon (1985) juga menarik, di mana makhluk alien ini berbentuk seperti bersinar dan terkesan non fisik.

Jika Anda pernah menonton film anime berjudul  Spirited Away (2001) membawa fantasi kita ke dunia non fisik, sebuah dimensi yang berbeda dengan dunia kita. Sebenarnya, kisah-kisah seperti ini sudah ada sejak jamandulu, lewat cerita-cerita rakyat atau legenda. Demikian juga cerita seperti Alice in Wonderland karya Charles Lutwidge Dodgson dengan nama samaran Lewis Carroll. Kisah-kisah yang digolongkan sebagai fairy tales (dongeng). Jadi, kembali lagi, apakah makhluk-makhluk seperti peri, leprechauns, dan kalau di budaya kita mengenal adanya genderuwo, tuyul dan lain sebagainya, adalah nyata ada, atau cuma dongeng belaka?

Terlepas dari hal itu, “what if” jika mereka memang ada? Mungkin sebaiknya saya batasi dulu, bahwa entitas non fisik yang ingin saya bahas di sini yang berkaitan dengan fenomena alien saja. Akan terlalu luas jika membahas tentang makhluk-makhluk lelembut ini. Meski dari segi alam pikiran yang ada di kita, akan lebih mudah menerima keberadaan lelembut-lelembut ini ketimbang alien.

Seperti kita ketahui, di luar negeri ada banyak wacana tentang alien dari jenis reptilian. Mereka berada di pangkalan-pangkalan yang berada di bawah tanah. Kejadian yang diceritakan oleh Philip Schneider, bahwa ada konflik bersenjata antara alien dengan tentara di pangkalan Dulce, melibatkan alien jenis reptilian. Di pangkalan Dulce konon terdapat instalasi militer bawah tanah yang merupakan gabungan kekuatan antara alien dengan tentara AS.  Mengenai alien reptilian ini, juga banyak dibahas di kalangan pengamat konspirasi alien, seperti David Icke. Len Kasten, Susan Reed, dan lainnya.

Jika kembali kepada budaya kita, ada banyak orang di pedesaan, yang mengatakan bahwa ada siluman-siluman ular dan buaya yang hidup berdampingan dimensi dengan kita, dan sesekali mereka juga berinteraksi dengan manusia. Dipercayai bahwa Bajol kroman merupakan siluman yang menyerupai buaya. Namun kemunculannya di publik bisa berubah bentuk seperti manusia. Pertanyaannya, apakah reptilian yang ada di Amerika Serikat itu sama dengan yang ada di Indonesia?


Channeling


Kontak dari makhluk-makhluk yang mengaku berasal dari planet lain selain dilaporkan bertemu secara langsung, ada banyak juga yang mengatakan bahwa dirinya dihubungi oleh makhluk-makhluk tersebut dengan memberi pesan-pesan bagi manusia lain. Orang-orang yang mendapat kontak ini disebut sebagai channeler, istilah yang akan dianggap lebih baik daripada medium. Proses pemberian pesan ini dikenal dengan istilah channeling.  Tentu ini banyak pro dan kontra mengenai fenomena ini.

Channeling sudah berlangsung lama, di mana seseorang mendapat pesan dari makhluk adikodrati. Sejarah mencatat antara lain adalah Joan of Arc, yang mengaku mendapat kontak dengan berbagai orang suci.  ditahun 1424 usia 12, mulai mendengar suara-suara dan mengenalinya sebagai  Saint Michael, Saint Catherine, Saint Margaret, yang menyuruhnya untuk mengusir Inggris dan membawa Dauphin ke Reims untuk penobatannya. Para Santa ini mengatakan padanya bahwa misi besarnya adalah membebaskan negaranya dari invansi tentara Inggris. Dia bilang menangis ketika mereka pergi, karena mereka begitu indah.

Di masa kini, fenomena channeling ini juga banyak terjadi. Ada yang dihubungi dari makhluk dari planet tertentu atau dari gugusan bintang yang jauh. Belakangan juga ada channeling dari entitas yang mengaku berada di bawah permukaan bumi, seperti Agartha, Telos atau Anshar. Ada juga yang mengatakan dari Galactic Federation of Light, Ashtar Command dan masih banyak lainnya. Di Indonesia juga ada beberapa orang yang menerima pesan-pesan dari entitas ini, entah ada yang mengaku dari masa lalu, dari planet lain dan lain sebagainya.

Umumnya, kontak ini terjadi hanya kepada sosok individu tertentu, yang kemudian merasa dirinya terpilih oleh entitas tersebut. Pesan yang diberikan kebanyakan berupa apokaliptik, menyingkapkan sesuatu tentang akan adanya bencana besar dan mereka yang percaya akan diselamatkan atau akan mengalami proses kenaikan dimensi, bertemu dengan jiwa-jiwa lain yang lebih tinggi kualitasnya dari kita.

Pada umumnya, channeling juga melibatkan proses astral projection atau Rogo Sukmo. Mereka yang melakukan astral projection bisa pergi atau diajak untuk ikut dalam pertemuan-pertemuan federasi makhluk asing. Sebagian dari mereka kemudian mengungkapkan pengalaman astralnya ke orang lain, sebagian tidak, atau hanya kepada orang-orang tertentu saja. Memang, hal-hal seperti ini menjadi pengetahuan esoterik. Esoterik berasal dari kata Yunani kuno ἐσωτερικός (esōterikós) yang berarti suatu hal yang diajarkan atau dapat dimengerti oleh sekelompok orang tertentu dan khusus, dapat juga berarti suatu hal yang susah untuk dipahami. Dengan demikian, dalam komunitas atau kelompok itu tidak akan pernah ada perdebatan atau sanggahan, sebab pada dasarnya sudah meyakini hal itu sebagai sebuah realitas yang benar.

Tapi, terlepas dari fenomena itu nyata benar atau tidak, memang penerimaan ini tergantung dari sikap masyarakat yang ada. Misalnya saja, fenomena yang sama juga dialami oleh Lia Aminuddin yang kemudian dikenal sebagai Lia Eden. Banyak yang kemudian menganggap dia mengalami gangguan kejiwaan. Padahal, fenomena yang sama juga terjadi di luar negeri dan juga orang-orang lain. Misalnya saja, komunitas yang menamakan dirinya Aetherius Society. Komunitas ini memiliki Cosmic Masters dan mendapatkan transmisi dari planet Venus, Saturnus dan planet Mars sector 6 melalui Dr. George King dari entitas-entitas yang disebutnya sebagai The Twelve Blessings.

Para channeler ini juga sering disebut juga dengan contactee atau mereka yang mendapat kontak dari makhluk asing. Jumlahnya sangat banyak dengan sumber serta asal usul yang beraneka ragam. Seakan bumi ini menjadi tujuan dari ribuan makhluk luar bumi yang ingin memberikan pesannya kepada kita. Sebagian mengatakan mendapatkan kontak dari tokoh yang sudah dikenal sebelumnya, misalnya seperti St. Germain, Ra, dan lainnya. Channeler, pada umumnya, kemudian bersama pengikutnya akan menjadi sebuah kelompok sekte atau cult.

Pertanyaan mendasar, jika memang orang-orang itu benar mendapatkan kontak, artinya bukan karena ada gangguan kejiwaan atau sengaja menipu, maka siapakah sosok yang menghubungi tersebut? Apakah entitas-entitas ini nyata ada? Apakah mereka memang makhluk fisik atau non fisik? Sebagian dari para channeler ini mengatakan bahwa sumber pesan mereka adalah malaikat (angels). Di anggapan orang lain, mungkin dikatakan bahwa yang menghubungi itu adalah jin. Terlepas apakah itu alien, malaikat atau jin, fenomena ini ada di masyarakat dunia. Sejauh ini saya bisa mengatakan bahwa entitas-entitas ini adalah non fisik. Mereka tidak bisa difoto, mereka ada di dimensi lain, komunikasinya terjadi secara telepatik atau saat astral. Tentu, saat di alam astral, orang yang yang bertemu dengan entitas tersebut sama-sama merasakan ada tubuh yang dianggapnya sebagai fisik. Namun pertanyaan berikutnya adalah, siapakah mereka? Mengapa begitu banyak dan berbeda-beda?


Astral Projection dan Tubuh Astral

Fenomena astral projection (AP) atau yangdikenal dengan rogoh sukmo, dipercaya bisa dilakukan oleh beberapa orang. Prosesnya adalah badan astral yang bersangkutan keluar dari tubuhnya dan kemudian melakukan perjalanan. Fenomena ini juga mirip dengan yang disebut sebagai Out of Body Experience (OBE).  Pada umumnya mengatakan bahwa antara badan astral dengan tubuh jasmaninya, tersambung semacam tali berwarna perak.

Kemampuan melakukan astral projection ini bisa beraneka ragam. Bahkan ada yang mengatakan bahwa bisa pergi sampai ke planet atau bahkan bintang lain. Ada juga yang menceritakan pengalamannya waktu AP menembus ke dalam bumi. Ada banyak cerita tentang hal ini, yang tentunya sebagai sebuah realitas subyektif, tidak mudah untuk diterima begitu saja. Akan sulit untuk memverifikasi kebenarannya. Namun banyaknya fenomena ini membuat sebuah tanda tanya, jangan-jangan memang hal itu bisa dilakukan. Namun, apakah yang dilihat sewaktu mengalami perjalanan astral adalah sebuah kenyataan yang sebenarnya?

Saya tidak perlu memberikan cerita-cerita pengalaman orang lain yang melakukan astral projection. Anda bisa mendapatkannya itu dengan menelusurinya di internet. Selain itu juga banyak buku-buku tentang ini, bahkan teknik untuk melakukannya.

Dari fenomena ini, jika ini benar, maka manusia bisa melakukan pelepasan dari tubuhnya, entah yang keluar itu apakah disebut sebagai jiwa, soul, sukma atau badan astral, menurut saya tidak soal, yang utama adalah bisa keluar dari badan atau wadagnya.

Ada banyak pertanyaan, apa yang terjadi seandainya saat melakukan astral projection kemudian tubuhnya mengalami kematian? Pernah ada kasus, di mana orang sedang melakukan AP, oleh keluarganya dikira meninggal dunia sehingga akhirnya dimakamkan. Ini membuat tubuh astralnya tidak bisa kembali lagi. Atau, apakah saat tubuhnya mati, maka tubuh astralnya juga lenyap? Artinya, tubuh astral itu sebenarnya hanya manifestasi dari kerja otaknya saja? Atau memang benar-benar terpisah, dan tidak bisa kembalinya badan astral ke tubuhnya menyebabkan ia akan mengembara terus, di mana mungkin hal ini akan disebut sebagai gentayangan?

Sehubungan hal ini, saya lebih tertarik untuk membahas tentang badan astral ini. Saat berada dalam keadaan astral, maka keberadaannya menjadi non fisik. Memang, dalam keadaan itu, yang mengalami masih merasakan bahwa dirinya memiliki tubuh yang dapat disentuh, dipegang, dan dilihat. Tapi bagi orang lain, maka ia telah menjadi entitas non fisik yang tidak kasat mata.

Ada beberapa pengalaman, di mana seseorang saat melakukan AP, tubuh astralnya ternyata bisa dilihat oleh orang lain yang memiliki kemampuan indera keenam. Tentu cerita semacam ini boleh dipercaya bisa juga tidak. Karena hal-hal yang sifatnya metafisik ini memang tidak mudah untuk membuktikannya.  Saya hanya berandai-andai, “what if”, itu juga hal yang sama terjadi saat makhluk hidup meninggal dunia. Ada juga cerita, seorang yang meninggal, jiwanya kemudian menghubungi seseorang untuk menyampaikan pesan tertentu. Apakah saat seseorang mengalami kematian, tubuh astralnya keluar dari badan dan tetap hidup? Sejujurnya, saya tidak tahu jawabannya, karena belum pernah mengalami sendiri. Namun dari cerita yang pernah mengalami, hal itulah yang terjadi.

Ada juga penuturan dari seseorang yang pernah dirawat karena gangguan kejiwaan schizophrenia. Saat dia sudah sembuh, dia menceritakan bahwa saat sakit itu, dia berada di belakang tubuhnya dan melihat tubuhnya dikendalikan oleh sesuatu yang lain. Dia tidak bisa masuk kembali ke badannya dan hanya bisa berada di belakang badannya. Apakah itu berarti ada yang membajak tubuhnya? Dalam studi ufologi, ada juga fenomena yang disebut sebagai walk-ins, di mana ada soul lain yang masuk ke dalam tubuh, menggantikan soul yang semula. Jika masuknya secara paksa, orang awam mungkin menyebutnya dengan kesurupan. Tapi bagaimana jika memang ada entitas non fisik  lain yang berusaha membajak tubuh seseorang dan membuat keluar pemilik aslinya?  Memang terdengarnya fantastis dan tidak masuk akal.

Fenomena-fenomena yang belum bisa terjelaskan ini, memang membuat rasa ingin tahu yang besar. Dalam budaya kita juga dikenal adanya makhluk-makhluk tak kasat mata ini. Ada yang menyebutnya dengan lelembut, dhemit, hantu, dan lain sebagainya. Bagi yang menekuni dunia metafisik atau kejawen, pasti tidak asing dengan hal-hal seperti ini.  Saya hanya ingin berasumsi saja, bahwa entitas tidak kasat mata ini memang nyata ada. Siapakah mereka dan dari manakah asal usulnya? Kalau menurut saya, kita perlu melihat secara luas, yaitu tidak terbatas hanya di bumi saja, tetapi juga seluruh alam semesta ini.

Pengalaman orang yang melakukan AP dan mengatakan bisa melakukan perjalanan jauh bahkan ke planet-planet lain, hal itu dilakukan dengan sangat cepat, secepat kemampuan pikirannya. Pengalaman seseorang yang pernah melakukan AP mengatakan bahwa saat ia memikirkan si A misalnya, maka ia sudah meluncur langsung menjumpai si A tersebut. Saya berpikir, mungkin ia cara kerja paranormal yang mencari seseorang yang hilang (misalnya korban kecelakaan atau pendaki gunung yang hilang). Jadi hanya dengan memikirkan, konsetrasi, maka badan astralnya akan segera bertemu dengan yang dituju. Ia kemudian bisa mengatakan bahwa korban masih hidup atau sedang berada di alam lain. Masalahnya, bisa saja korban sudah meninggal dunia, dan mereka bertemu di alam astral. Kadang juga paranormal mengatakan bahwa korban sedang berada di bawah kekuasaan enititas lain dan mencoba memintanya untuk mengembalikan ke dunia kita. Cerita-cerita seperti ini jelas terkesan mistis dan misteri.

Di sini saya mencoba membayangkan, saat seseorang melakukan AP dan pergi ke planet lain, apakah dia melihat planet tersebut di alam astral atau sama dengan alam semesta yang umumnya terlihat. Artinya, jika semisal secara astral ia melihat bahwa di planet tersebut ada tumbuh-tumbhan dan makhluk yang aneh, apakah jika ada astronaut yang mendatangi ke planet itu maka akan menjumpai hal yang sama? Entahlah, belum pernah ada yang membuktikan hal ini.

Selain fenomena AP ini, ada juga yang disebut dengan Remote Vieweing (RV). Umumnya orang menganggap hal ini sebagai dua kemampuan yang berbeda. Kalau pada AP yang terjadi adalah keluar dari badan, sementara pada RV adalah bagian dari clairvoyance. Mereka yang memiliki kemampuan ini, bisa menggambarkan keadaan suatu wilayah, bangunan atau lansekap tertentu dari jarak jauh tanpa menginderanya. Jadi semacam ada vision yang nampak olehnya.  Dengan kata lain, bila AP seperti kita sedang berjalan-jalan menelusuri  sebuah tempat, namun pada RV seperti kita melihat monitor dan bermain game 3D menelusuri labirin-labirin. Sebenarnya, ini hampir mirip menempatkan drone untuk melihat dari jarak jauh, sementara kalau AP, kita yang menjadi dronenya. Mungkin analogi saya ini tidak tepat benar, namun menurut pendapat saya kira-kira seperti itu.

Hal ini pernah diselidiki oleh pemerintah AS dengan program yang bernama Stargate, termasuk membentuk tim mata-mata berkemampuan RV (menjadi Psychic Spies). Pengakuan orang yang melakukan RV sebenarnya hampir mirip dengan AP, yaitu menemukan ada penjaga-penjaga yang berupa entitas non fisik yang bisa membahayakan keselamatan mereka.  Tentang proyek stargate ini pernah saya tulis beberapa tahun lalu.


Tubuh Astral dan Tubuh Eterik

Dari penjelasan yang paham di bidang Astral Projection, ada beda antara tubuh astral dengan tubuh eterik. Apa itu tubuh eterik? Ini adalah wadah yang merupakan jembatan antara Fisik dan tubuh astral (astral plane). Ada sebuah penjelasan yang cukup menarik tentang hantu. Umumnya hantu dan arwah tidak seharusnya datang di dunia kita. Tetapi ketika mereka melakukannya, mereka datang dengan wujud ethereal, jadi kita bisa melihat mereka. Kita dapat merasakan kehadiran mereka.  Jika seseorang memproyeksikan diri ke wadah ini, ia dapat menembus dinding dan benda padat. Ia juga dapat mengunjungi tempat mana pun di dunia fisik dan berinteraksi dengannya sampai batas tertentu. Unsur-unsur dunia ini lebih baik daripada dunia fisik. Konsep telepati, penglihatan jarak jauh dan kemampuan psikis lainnya dimungkinkan dalam melalui badan eterik ini.

Sementara itu, dalam dunia astral, dijelaskan bahwa hal ini merupakan dunia yang sama sekali berbeda dari dunia kita. Hal-hal di sini memiliki lebih banyak fluiditas, yang berarti tidak ada yang solid. Bahkan jika sesuatu tampak solid suatu saat, saat berikutnya bentuknya dapat berubah. Pikiran langsung terwujud dalam wadah ini. Ini bisa menjadi semacam wahana tempat kita pergi setiap malam saat kita bermimpi dan tidak memiliki struktur khusus, dan sering berubah sesuai dengan pikiran kita. Itulah mengapa mimpi kita terasa sangat aneh. Suatu saat kita di sini, adegan berikutnya mungkin sangat berbeda. Dunia ini jauh lebih cerah dan penuh warna jika kita secara sadar memproyeksikan diri kita ke dunia ini.

Di kalangan neo-teosofi, tubuh eterik adalah tubuh halus yang merupakan lapisan pertama atau terendah dalam "medan energi manusia" atau aura. Dikatakan bisa kontak langsung dengan tubuh fisik, untuk mempertahankannya dan menghubungkannya dengan tubuh "lebih tinggi".  Dalam ajaran Teosofi, para dewa dianggap hidup di atmosfer planet-planet tata surya (Malaikat Planet) atau di dalam Matahari (Malaikat Matahari). Di sistem planet lain dan bintang-bintang nampaknya juga memiliki malaikatnya sendiri. Mereka dipercaya membantu untuk memandu operasi proses alam seperti proses evolusi dan pertumbuhan tanaman.  Wujud mereka konon seperti warna nyala api seukuran manusia. Dipercaya oleh para Teosofis bahwa para deva dapat diamati saat mata ketiga diaktifkan. Beberapa (tetapi tidak sebagian besar) dewa awalnya menjelma sebagai manusia.

Ya, ini memang keyakinan mereka. Bagi kita mau percaya atau tidak memang kembali ke diri masing-masing. Namun ini menarik bagi saya, sebab dalam buku “Ashtar: A Tribute” yang dikompilasi oleh Teulla, yang diterjemahkan oleh Birru Sadhu di laman Facebooknya, dikatakan bahwa saat Asthar ditanya,” Pada Tata Surya kita, adakah makhluk fisik lain seperti kita?” Hal itu dijawab: “Tidak. Semua makhluk di planet lain di Tata Surya anda adalah Eterik. Di planet anda ~ seperti yang anda ketahui sekarang, ada dua jenis makhluk - Fisik dan Astral. Di luar Sistem Bumi-Bulan di Tata Surya anda, semua adalah Eterik.” Di kesempatan lain Birru Sadhu juga menguraikan tentang keadaan Telos yang diambil dari buku “Telos : The Call Goes Out from the Hollow Earth and the Underground Cities” yang ditulis oleh Dianne Robbins, di mana entitas yang ada di Telos bekerja dengan tubuh eterik.

Mengapa hal ini saya anggap menarik? Kalau kita mencoba menggali lebih jauhtentang fenomena alien dan keberadaan entitas non fisik ini, nampaknya memang ada hubungan yang sangat erat. Dalam banyak pengalaman saat astral projection, mengatakan bahwa mereka bertemu dengan entitas-entitas asing. Ada yang menurut mereka baik, ada juga yang memiliki sifat agresif dan berbahaya. Semua ini kemudian mengingatkan semacam ada kekuatan terang dan gelap. Hanya saja, kita mesti hati-hati dalam membuat penilaian di sini, sebab terang sering diasumsikan sebagai baik sedangkan gelap dengan keburukan. Kalau menurut pendapat saya, jangan terjebak dalam pro dan kontra atau penilaian baik dan buruk, sebab itu bisa membuat salah arah.

Sementara kita abaikan dulu makhluk luar angkasa yang berbentuk fisik dan fokus ke entitas non fisik ini. Seperti sebelumnya, saya juga tidak ingin terjebak dalam meributkan soal istilah, apakah itu badan astral, tubuh eterik, roh, sukma, soul atau lainnya. Saya sebut saja sebagai entitas non fisik. Mereka nyata, ada di sekitar kita, entah apa agendanya, namun saya yakin beraneka ragam karena mereka tidak hanya satu jenis tapi bisa sangat banyak ragamnya.

Pertanyaannya lalu, dari manakah mereka? Mengapa mereka bisa ada di bumi ini? Mengapa juga mereka melakukan kontak dengan manusia melalui cara channeling? Benarkah agenda mereka memang untuk kepentingan umat manusia dan membantu kita, seperti yang sering dikatakan, naik ke tingkat yang lebih tinggi?

Sebelum saya mencoba membahas tentang hal itu, saya ingin mengajak untuk melompat terlebih dahulu ke topik lain untuk memberikan sedikit gambaran, yaitu tentang reinkarnasi. Fenomena ini juga masih misteri. Ya, tidak semua orang percaya reinkarnasi. Mengapa saya harus membahas tentang reinkarnasi? Saya punya pandangan yang agak berbeda dengan yang umum tentang reinkarnasi, dan ini berkaitan dengan fenomena walk-ins dan juga entitas-entitas non fisik yang saya kemukakan sebelumnya.


Reinkarnasi

Secara umum, reinkarnasi dipercaya sebagai kelahiran kembali. Jadi, reinkarnasi ini berarti kita sebelumnya sudah pernah hidup, bahkan ada percaya sudah berkali-kali hidup di dunia ini. Re artinya kembali, “in”+”karnasi” artinya ke dalam daging/tubuh. Jadi hidup kembali di badan fisik. Itu berarti, orang yang mempercayai reinkarnasi, juga percaya bahwa jiwanya tetap ada walau sudah meninggal dunia dan akan dilahirkan kembali. Kelahiran berikutnya dikatakan sangat tergantung dari sifat dan perbuatan selama hidup sebelumnya.

Dalam kepercayaan Mesir kuno, saat meninggal, dewa Anubis akan datang dan kenudian melakukan penimbangan jantung orang yang telah meninggal itu dengan sehelai bulu Maat, yang mewakili kebenaran dan keadilan.  Hasil dari timbangnan ini akan menentukan ke mana nantinya sang arwah harus pergi. Jika jantung yang ditimbang ternyata lebih berat daripada bulu, maka sang arwah akan dikirim ke tempat yang mengerikan. Dia akan dimangsa oleh Ammit, penghancur jiwa.  Sebaliknya, jika jiwanya lebih ringan daripada bulu, maka arwahnya akan pergi ke tempat yang menyenangkan dan dilahirkan lagi dengan memilih di antara beberapa pintu yang bisa dimasukinya. Ia akan juga diizinkan untuk melakukan perjalanan menuju Aaru, "Field of Rushes", yang merupakan bentuk ideal dunia yang diinginkan.

Konsep ini sebenarnya masih diyakini hingga kini, dengan ditimbangkan amal dan perbuatan, serta adanya ganjaran akan surga dan neraka. Di konsep keyakinan lain, ada juga kepercayaan akan dilahirkan kembali dalam tubuh yang baru dengan bumi yang baru. Semua ini merujuk kepada sebuah keyakinan adanya kehidupan setelah kematian. Artinya, setelah mati, kesadaran kita tidak lenyap, bahkan ada yang meyakini bahwa kita akan dilahirkan kembali, dengan kata lain melakukan reinkarnasi.

Saya tidak ingin mempermasalahkan soal berbagai keyakinan ini karena pada intinya memang tidak mudah membuktikannya secara empirik. Namun, bagaimana jika, setelah kita mati jiwa kita tetap ada dan hidup? Ini tentu kita bisa merujuk kepada fenomena astral projection, di mana kesadaran kita juga bisa keluar dari tubuh. Tentu, bagi yang tidak percaya bisa mengatakan hal itu hanya karena proses kerja otak belaka atau mengalami halusinasi. Namun, coba kita abaikan dulu tentang hal ini, namun memikirkan kemungkinan akan tetap adanya kita sebagai entitas non fisik.

Kembali ke soal reinkarnasi, saya memiliki pandangan yang agak berbeda. Sebelumnya saya telah menyinggung tentang walk-ins. Walk-ins ini konsep dari new age tentang seseorang yang soul aslinya sudah keluar dari tubuh dan diganti oleh soul lain. Soul yang lain yang memasuki tubuh ini yang disebut walk-ins. Masuknya soil ini bisa secara temporer atau permanen. Kalau secara temporer, mungkin bisa dianggap sebagai “kesurupan”.

Jadi, ini semacam memakai tubuh orang lain. Umumnya, walk-ins masuk ke tubuh seseorang yang baru saja meninggal dunia atau soulnya pergi. Tapi, yang buruk memang ada yang melakukan pengambilalihan secara paksa. Jadi, prosesnya bisa dibajak paksa, bisa juga sukarela, atau bisa juga karena tubuhnya kosong jadi dipakai atau diambil.

Lalu apa hubungannya dengan bahasan alien? Fenomena walk-ins ini cukup menarik, karena umumnya soul-soul ini mengaku berasal dari luar bumi. Selain yang walk-ins ini, dikenal juga ada spirit-spirit yang mengembara di alam semesta yang disebut sebagai wanderer.

Menurut saya, tentang siapa mereka dan dari mana asalnya, tidak semua bisa dipercaya karena bisa saja entitas yang masuk ini termasuk yang usil, jadi bisa mengaku macam-macam. Ini sebabnya, di kalangan pengamat ufo dan alien, ada yang menyebut mereka sebagai trickster (penipu).

Tentang reinkarnasi itu sendiri, sebelumnya perlu saya jelaskan bahwa iniadalah pandangan pribadi dan bisa berbeda dengan yang lain, menurut saya setiap orang lahir dengan identitas diri yang orisinil atau soul yang baru. Tapi saat lahir, yang masuk ke dalam dirinya itu ada juga yang lain. Syukur-syukur kalau memang tidak ada, artinya hanya dia sendiri. Tetapi bisa juga ada yang lain, bahkan bisa banyak.

Nah, dalam keseharian hidup orang tersebut, yang utama tentunya dirinya. Tapi saat dia lost control (menurunnya kendali diri), entitas yang lain itu bisa muncul. Ini juga terjadi saat dilakukan  proses hipnoterapi, maka identitas yang lain itu bisa muncul dan kemudian dianggap sebagai “past lives” yang bersangkutan, padahal sebenarnya tidak.

Saat seseorang mati, dirinya (dalam arti soulnya... sekali lagi, ini jangan dipertentangkan soal difinisinya... ada yang bilang roh, ada yang bilang sukma, jiwa, dan lain2... buat saya tidak menjadi masalah), itu bisa ada dua kemungkinan, pertama dia melebur dengan alam (apapun alamnya, mungkin dibilang masuk surga, lenyap di nirwana, atau lainnya) atau dia menjadi pengembara (istilah awamnya: gentayangan). Yang mengembara ini ada yang kemudian memang suka mengembara, tapi ada yang kemudian ingin masuk ke tubuh lagi. Memang, umumnya berusaha untuk masuk ke tubuh kembali. Menurut saya, masuk ini belum tentu masuk ke tubuh manusia, bisa ke benda, bisa ke makhluk hidup lain. Seperti yang saya kemukakan di atas, bisa juga menetap, bisa juga sementara. Demikian juga, bisa kemudian hidup di planet lain. Artinya, masuk kembali ke tubuh tidak selalu harus di bumi saja.  Di sisi lain, ada juga kemungkinan, makhluk hidup yang ada di planet lain kemudian rohnya ke bumi dan tinggal di sini. Di sini saya katakan, mana saja bisa. Mau di planet mars, Venus, bintang macam-macam. Sejauh mana keinginannya, sebab dia memang pengembara. Ada juga yang tidak bisa terlepas dari suatu lokasi karena keterikatannya yang kuat akan tempat itu.

Saya mau mengulas intisarinya saja dulu. Jadi begini, sebelum manusia yang jaman ini ada, Anda boleh percaya atau tidak, bahwa di bumi ini sudah ada peradaban cerdas sebelumnya. Apakah mau disebut Atlantis, Lemuria, Eden, atau apa, bagi saya tidak soal. Yang utama adalah peradaban di masa lalu yang telah hilang ini pernah ada.

Sekarang saya akan biacara soal "what if".... bagaimana jika, mereka, orang-orang di masa itu, sudah memiliki kemampuan untuk Astral Projection. Atau mereka sudah punya kemampuan untuk melepaskan diri dari tubuh. Anggap saja kemampuan itu hal yang lumrah bagi mereka, sama seperti kita berjalan kaki, naik mobil dan lain sebagainya. Jadi bukan hal aneh untuk orang-orang di  jaman itu melakukan astral projection. Maka, saat mereka tahu bahwa diri mereka dalam keadaan bahaya, karena tahu bahwa akan binasa, misalnya akibat bencana alam, kejatuhanmeteor besar, atau dalam peperangan, maka mereka kemudian ramai-ramai melakukan upaya keluar dari tubuhnya agar diri mereka dengan badan astral (atau eteriknya) bisa tetap eksis. Dan itu yang terjadi, saat mereka keluar dari tubuhnya, tubuh mereka kemudian binasa. Nah apa yang terjadi dengan keberadaan mereka? Di sini, saya ingin mengatakan, sekali lagi ini pandangan pribadi saya, saya menganggap mereka sebagai "jin". Bahkan jika mau dibilang "angel" juga tidak masalah. Namun memang kalau konsep malaikat dan jin ini dilihat dari sudut pandang yang umum, memang beda. Pada intinya, apapun namanya, mereka menjadi makhluk atau entitas yang non fisik.

Kembali ke soal reinkarnasi, ada kepercayaan bahwa setiap manusia saat dilahirkan memiliki pendamping. Ada yang menyebutnya sebagai jin qarin. Bagaimana jika konsep ini sebenarnya sama dengan yang saya kemukakan sebelumnya, bahwa para pendamping ini adalah mereka yang dulu pernah hidup? Di keyakinan lain ada yang menyebut sebagai malaikat pelindung. Jadi, mereka ikut masuk dan bisa muncul saat diadakan proses regresi (hipnoterapi). Benar tidaknya, tentu tergantung keyakinan masing-masing.

Menurut saya, setiap manusia yang lahir (saya bahas manusia saja, sebab bisa juga pada binatang saat lahirpun sama), ada entitas lain yang berusaha masuk. Yang masuk di dalam diri saya juga bisa banyak. Seperti saya tadi katakan, syukur-sykur  jika tidak ada, maka saya benar-benar merupakan new soul. Tapi bisa juga ada “old soul” - “old soul” lain yang masuk dalam diri saya. Menariknya, orang kebanyakan lebih bangga jika merasa dirinya adalah old soul. Menurut saya, old soul ini bisa sudah masuk saat saya lahir, bisa juga masuk belakangan, seperti dalamkasus walk-ins tadi. Misalnya saat saya remaja, atau entah kapan. Kalau dari yang saya amati, seseorang melakukan proses ritual inisiasi, baisanya juga ada old soul yang masuk ke dirinya. Apakah yang bersangkutan akan mengalami perubahan, bisa ya bisa tidak. Perubahan akandiketahui jika soul yang lain itu kemudian menjadi dominan.  Seperti misalnya Lobsang Rampa, penulis buku "Mata Ketiga". Saat diketahui bahwa dia adalah dulunya bernama Cyril Henry Hoskin, dia kemudian mengatakan kalau dirinya menggantikan tubuh Hoskin saat Hoskin jatuh dari pohon. Soulnya Hoskin sudah sepakat untuk dipakai tubuhnya.

Jadi, mengenai reinkarnasi, menurut saya itu bukan dia yang hidup berulang-ulang,  tetapi ada entitas lain dalam dirinya selain dirinya. Kalau saya "penasaran", maka nanti bila saya mati, saya juga akan reinkarnasi ke tubuh orang lain. Tapi saya tidak pasti akan dominan di tubuh itu. Apabila yang punya tubuh lemah, saya bisa ambil alih.


Entitas non fisik dari peradaban yang hilang


Lalu apa kaitannya dengan agenda alien? kalau melihat aktivitas alien-alien yang membuat makhluk hibrid dan kloning, saya menduga hal itu adalah untuk tujuan membuat wadah-wadah (container)  yang bisa hidup di bumi ini dengan diisi oleh soul mereka yang saat ini sedang "gentayangan".

Balik ke entitas-entitas tidak kasat mata ini, maka... what if, orang-orang yang di peradaban masa lalu yang sudah punah ini, kemudian jiwanya masih mengembara? Ingat, kita pun (kecuali yang tidak percaya), bisa suatu saat jadi pengembara (gentayangan). Seperti saya kjutip dari posting Birru Sadhu, di mana dikatakan semua makhluk di planet lain di Tata Surya adalah eterik, “What if”... bagaimana jika... selain ada makhluk ET yang memiliki bentuk fisik seperti kita ini, ada banyak sekali makhluk entitas eterik/astral, yang merupakan jiwa-jiwa yang mengembara?

What if ini... membawa saya ke pemikiran yang lain, yaitu, jangan-jangan makhluk yang mengaku dari luar angkasa atau mungkin juga dari hollow earth, adalah entitas-entitas yang dulunya pernah hidup di bumi ini dan kemudian melepaskan diri dari tubuhnya (mengastral) saat mereka tahu bahwa mereka akan binasa terkena bencana. Lalu, saat ini mereka kemudian mengontak manusia, yang kemudian disebut dengan channeling. Soal channeling, saya tetap mencoba berpikiran sekritis mungkin, artinya, saya tidak berusaha langsung mempercayai isi pesannya, karena tidak menutup kemungkinan ada entitas yang iseng dan berbohong. Tapi untuk fenomenanya, saya meyakini itu bisa terjadi.

Entitas tidak kasat mata ini (unseen entity), mungkin mirip yang terjadi pada fenomena yang namanya shadow friend (imaginary friend). Kalau di ilmu psikologi tentu hal itu tidak dianggap sebagai suatu hal yang nyata, karena dianggap hanya sebagai imajinasi... tapi what if, jika hal itu benar ada? Bagaimana jika manusia-manusia dari peradaban yang hilang itu kemudian melakukan komunikasi dengan manusia saat ini?

Saya pribadi, kalau soal ufo dan alien, memang menghadapi dua hal yang bertentangan ini. sebab menurut saya ada makhluk extraterrestrial (ET) yang memiliki bentuk fisik dari planet lain, tapi ada juga makhluk-makhluk yang tidak kasat mata ini, yang juga dianggap sebagai alien (dan mengaku sebagai ET), tetapi sebenarnya berasal dari dimensi atau alam lain.

Makhluk alien yang tidak kasat mata ini menurut saya memang cerdas, cerdik dan dulunya berteknologi tinggi, tapi kondisinya memang seperti orangyang terdampar di pulau terpencil dan primitif. Mereka berada di planet yang peradabannya dimulai dari nol lagi. Ibarat kita tahu tentang pesawat terbang, tapi apakah kita bisa membuatnya? Mungkin pilot sekalipun belum tentu bisa membuat pesawatnya. Mungkin tahu prinsip kerjanya, tahu teknisnya, tapi apa bisa membuatnya? Belum tentu kan? Apalagi jika tempat pilot itu tinggal ternyata tidak ada pabrik logam, tidak ada pabrik elektronik, belum ada alat komunkasi, dan lain sebagainya.

Soal reinkarnasi, bagaimana dengan proses mencari tahu lewat regresi ke kehidupan masa lalu?  Menurut saya, sekali lagi ini hanya menurut saya, ada bahaya dari proses regresi past lives ini. Mengapa? Karena hal itu sebenarnya sama dengan mengaktifkan soul dari masa lalu tersebut. Sebab kalau menurut penjelasan dari pandangan saya di atas tadi, yang reinkarnasi itu bukan saya, tapi old soul (soul lain). Jadi bukan saya melakukan kehidupan berulang kali, tapi dengan melalui hipnotis tadi itu, soul lain itu menjadi seperti tampil/muncul. Bahayanya, ya tentu ada.  Tapi ya bisa bahaya bisa juga tidak... tergantung dari soul yang dimunculkan itu. Kenapa saya bisa bilang begitu? Karena setiap sosok yang muncul saat past lives regression itu, sebenarnya bukan "AKU". Akan ada bedanya jika soul dari masa lalu itu merupakan sosok yangdominan. Memang, ada juga yang kemudian bisa berkolaborasi dengan soul-soul dari masa lalu ini. Di masa lalu, para penyair dianggap punya pendamping seperti ini.


Demikian juga, soul yang masukpun ada yang dulunya hidup di planet lain. Jadi ia akanmerasakan bahwa dirinya adalah makhluk asing. Merasa bumi ini bukan “rumahnya”. Jadi ini ada benarnya, kalau membuka kesempatan soul lainini muncul lewat "journey to the past", maka hidup kita memang bisa berubah. Apakah menjadi lebih baik atau tidak, itu konsekuensi yang harus dihadapi sendiri.


(Selesai)

Surabaya, 18 September 2019