Selasa, 26 November 2019

Halusinasi Tentang UFO Makin Canggih

INTISARI / NOVEMBER 1998 No. 424

Bertahun-tahun penjajakan mengenai UFO (objek terbang tak teridentifikasi) dan makhluk cerdas luar bumi belum terbukti secara ilmiah. Tapi secara empiris pertemuan antarmakhluk konon terus berlangsung. Seberapa jauh bukti-bukti itu bisa dipercaya?

Sendirikah manusia di alam raya yang mahaluas ini? Adakah kehidupan tinggi lain selain manusia? Adakah kehidupan di planet lain? Pertanyaan macam itu sudah lama menggantung dalam benak manusia kurenanya memunculkan berbagai penyelidikan yang curiga ada kehidupan lain di “sana”. Upaya penjajakan dijalankan. Pada 1948 Angkatan Udara AS mulai mencatat laporan-laporan penglihatan UFO, yang dinamai Project Blue Book. Sederetan radar deteksi dipasang di dekat bandar udara Washington pada Juli 1952.

Proyek ini dikomandoi oleh H.P. Robertson, fisikawan asal Institut Teknologi Kalifornia yang diperkuat oleh sederetaran pakar meteorologi dan astronomi. Menjelang tahun 1969 proyek itu melaporkan adanya 12.618 pandangan mata atau kejadian. Sebagian besar diidentifikasikan sebagai fenomena meteorologis astronomis. Belakangan muncul pusat-pusat studi yung masuk kategori SETI (Search for Extraterrestrial Intelligence, pencarian makhluk angkasa luar). Dalam bendera SETI ini salah satu proyek yang sedang dikerjakan adalah CONTACT, The Consruction and Contemplation of Beliveable Alien Culture (tafsiran dan renungan tentang makhluk luar bumi). Proyek senilai AS $100 juta ini diprakarsai oleh Badan Antariksa AS (NASA) berlangsung sejak 12 Oktober 1992. Teleskop-teleskop radio dipasang membentang dari bagian utara hingga selatan AS. Di Gunung Wilson (+ 1.700)’ Los Angeles, terdapat antena raksasa yang mengarah ke bintang-bintang yang masuk daftar target. Setiap gugusan bintang dipantau sekurang-kurangnya 200 kali selama lima menit dengan 200 frekuensi berbeda. Pesan-pesan selamat datang dan perdamaian pun dikumandangkan.

“Datanglah segera. Kami spesies muda yang masih harus banyak belajar,” begitu bunyi pesan itu. Sayang, sejauh ini proyek tersebut belum menemukan titik terang akan keberadaan makhluk lain. Paling tidak itulah kesimpulan sementara proyek SETI Universitas Harvard, AS, tahun 1998 di salah satu situs Internet. Kesimpulan itu nyata-nyata berseberangan dengan pelbagai laporan tentang adanya kunjungan benda terbang tak dikenal (UFO) atau makhluk ekstra cerdas (ET) ke dalam orbit bumi sejak puluhan tahun lalu.

Berseragam tentara

Kasus aneh di Rio de Janeiro pada 15 September 1977, misalnya. Pengemudi bus, Antonio La Rubia, sedang menuju tempat kerja pada pukul 14.20 ketika melihat benda terang. Objek berbentuk topi tampak berputar di atas lapangan sepakbola. Karena takut, ia lari, tetapi segera dilumpuhkan oleh sinar biru. Lalu muncul makhluk setinggi 120 cm dengan antena di tengah kepala dengan badan tertutup “kulit” dari aluminium.

Makhluk aneh yang memiloti UFO itu umumnya disebut sebagai “Close Encounters of the Third Kind”, yang juga judul sebuah film tentang makhluk UFO karya Steven Spielberg 1977. Satu dari tiga penglihatan UFO melibatkan adanya makhluk ini. Bahkan sejak awal abad XX, beberapa pertemuan menunjukkan ada penumpang dalam UFO. Di hutan Thessalonica, Yunani, misalnya, pada akhir musim panas tahun 1938, seorang penduduk desa New Apollonia melihat benda setinggi 2,7 m di tanah terbuka. Dua makhluk mirip manusia tapi lebih tinggi berdiri di sebelahnya. Kepalanya besar, mata merah dengan kulit merah karena terbakar sinar matahari. Seragam mereka mirip tentara Inggris. Begitu sadar kalau diamati, mereka berlompatan ke dalam “telur raksasa” itu. Tiba-tiba sesuatu yang menyerupai balon muncul dan menggembung di atas telur dan benda itu pun melesat ke atas lalu menghilang.

Pertemuan-pertemuan aneh terus berlanjut. Di sebuah dusun kecil, Kelly, dekat Hopkinsville, Kentucky, AS, sebuah keluarga bersama dua temannya dikepung dan diisolasi oleh kelompok orang kerdil setinggi satu meteran. Mereka berkaki pendek dengan kepala berukuran besar, mata kuning menyala, dan telinga raksasa. Makhluk warna metalik itu muncul di kegelapan malam tanggal 21-22 Agustus 1955 dan berulang-ulang menyerbu rumah antara pukul 19.30-04.45. Penduduk yang ketakutan mencoba mengusir dengan menembaki mereka. Tapi, meski setiap kali tertembak sampai jungkir balik tunggang-langgang, mereka tetap pulih dan muncul kembali tanpa cedera.

Lagi, pada 6 Desember 1972, di Genoa seorang penjaga malam Fortunato Zanfretta (26) merasa didorong ke tanah oleh makhluk raksasa setinggi 3 m. Badannya berupa daging berlipat-lipat warna abu-abu gelap. Dengan kepala berbentuk aneh, dua tanduk ada di sisi dahi, matanya kuning berbentuk segitiga, agak terangkat. Zanfretta mencatat ada kerutan bercahaya di dahi, yang ia pikir mata ketiga. Tiba-tiba makhluk itu menghilang dan pesawat raksasa berbentuk segitiga naik ke atas di belakang gedung dengan suara yang memekakkan telinga. Dalam relasi dengan manusia makhluk angkasa ini kadang memang bertindak keterlaluan, misalnya menculik dan membawa korban ke dalam “dunianya”. Itulah yang dialami oleh Antonio Villas Boas, petani asal Brasil. Ia diculik dan diajak bermain cinta oleh penumpang wanita yang cantik dalam piring terbang tahun 1957.

Ada lagi pasangan AS setengah tua, Betty dan Barney Hill, yang berhadapan dengan UFO ketika lewat White Mountains, New Hampshire, malam-malam September 1961. Dua minggu kemudian Betty mendapatkan serangkaian mimpi buruk. Ia merasa dikelilingi oleh sejumlah orang kecil, humanoid abu-abu memakai seragam tentara. Ia dan Barney lalu minta bantuan seorang hipnoterapis, Dr. Benjamin Simon. Di bawah pengaruh hipnosis suami-istri itu menceritakan kondisi penculikan. Keduanya dikeluarkan paksa dari mobil oleh hampir selusin makhluk luar. Semua pendek, berkulit abu-abu, berambut hitam, berbibir biru, dengan hidung panjang. Mereka dipaksa masuk ke pesawat UFO lalu terbang untuk pemeriksaan kesehatan.

Sebuah alat berat diletakkan di atas alat vital Barney, sedang Betty menjalani tes kehamilan, padahal ia sudah tidak punya rahim. Ketika kembali ke mobil, pasutri itu sudah tak ingat apa-apa.

Ufonauts, pilot UFO
Atas dasar ciri-ciri pertemuan dengan manusia, para ahli dan pengamat UFO memilahnya menjadi tiga kategori. Yakni pertemuan tanpa kontak fisik, pertemuan dengan kontak fisik, dan pertemuan dengan melibatkan makhluk UFO. Pada pertemuan tanpa kontak fisik biasanya si saksi hanya melihat benda terbang pada jarak kurang dari 150 m. Kendati berbentuk oval, berkubah, dan tanpa sayap, benda ini bisa berputar-putar dan terbang dengan kecepatan tinggi. Lintasannya vertikal, dan lepas landas dengan kemiringan 45' atau lebih. Pertemuan dengan kontak fisik mirip dengan jenis pertama tetapi plus akibat fisik yang ditimbulkan. Tumbuhan terbakar atau hangus, ranting pohon patah, binatang ketakutan atau terluka. Benda-benda terutama kendaraan bermotor tiba-tiba lumpuh, mesin mati, radio tak bisa menangkap gelombang, lampu mengecil atau padam.

Sedang pada jenis ketiga, pertemuan itu ditandai oleh kehadiran penumpang dengan aneka warna, bentuk, dan ukuran. Beberapa laporan ada yang menyebut sebesar manusia dengan bentuk yang sempurna. Di balik pertemuan itu ufonauts (pilot UFO) menjadi pusat perhatian.

Gambaran-gambaran tentang dia dinilai terlampau “manusiawi” untuk dianggap benar-benar makhluk asing. Wujud fisiknya selalu mirip manusia dengan dua tangan, dua lengan, dan satu kepala. Tetapi detilnya terlampau beragam sehingga bisa jadi ada ratusan spesies makhluk asing.

Berjenis-jenis makhluk asing inilah yang sulit dipercaya, ungkap Patrick Huyghe, pengarang The Field Guide to Extraterrestrial. “Dari Amerika Selatan dilaporkan kemunculan makhluk kerdil hitam yang agresif. Di benua Eropa, terutama Inggris, makhluknya tinggi, berambut pirang, mata biru, dan watak lebih ramah. Keragaman tampilan berdasarkan wilayah munculnya ini membuat UFO diragukan kalau berasal dari luar bumi, karena perbedaannya menuruti pola budaya dan masa saat mereka dilaporkan muncul. Maka makhluk UFO itu sebenarnya khayal saja,” tulis Huyghe.

Pandangan Huyghe disokong oleh para ufolog Eropa, sebaliknya ditolak para peneliti UFO Amerika yang tetap percaya, piring terbang adalah pesawat luar angkasa yang datang dari planet lain. Namun, hipotesa adanya makhluk ET (ekstraterestrial) tetap punya banyak lubang untuk dipertanyakan. Misalnya, harus ada wahana angkasa dengan kecepatan sama atau melebihi kecepatan cahaya (+ 300.000 km/detik) guna menjembatani ruang antarplanet yang sangat jauh. Nah, menurut perkiraan Einstein, wahana yang secepat itu belum tersedia.

Sebatas halusinasi

Pertanyaan lain. Banyak ufolog tidak bisa mengerti mengapa harus ada begitu hanyak kemunculan UFO yang dilaporkan sampai 100.000 buah? Soalnya, kalau “makhluk cerdas” mau tahu kondisi bumi tentu tak perlu datang berombongan. Cukup dengan beberapa saja membawa misi pengambilan contoh bumi. Ganjalan keberadaan UFO juga muncul oleh penggambaran para saksi mata yang mengatakan bagaimana UFO sering dilihat melakukan pembelokan tajam 90'. Manuver itu bukan hanya bisa mematikan bagi pilot berpengaluman, namun juga makhluk luar angkasa yang mirip kita.

Namun, keberatan-keberatan di atas ditolak mentah-mentah oleh sebagian ufolog. Ada yang berpendapat, makhluk ET pastilah jauh lebih tangguh dibandingkan dengan manusia bumi. Bahkan Gerald Heard, yang tahun 1951 menulis Is Another World Watching? salah satu buku pertama tentang piring terbang, mengatakan wahana itu adalah kapal angkasa dari Planet Mars yang dipiloti oleh lebah super canggih, sepanjang kira-kira dua inci (5 cm). Sebab, hanya binatang ini yang bisa menerima gaya G (gravitasi) yang ditimbulkan oleh sebuah piring terbang. Lucunya, ketika belakangan ilmuwan menemukan bahwa di Planet Venus dan Mars tak mungkin ada kehidupan, para pelosor UFO lalu mulai menyebutkan “asal-usul” UFO yang makin jauh.

Betapa pun, kaum ufolog sendiri memperkirakan antara 85-95 % laporan tentang UFO, kalau diselidiki dengam benar, pasti bisa dijelaskan, sehingga termasuk kategori “identified”, daripada “unidentified” seperti yang tersirat dalam istilah UFO sendiri. Contohnya dialami Donald Menzel, direktur Observatorium Harvard College, yang mengungkapkan banyak penglihatan piring terbang sebenarnya cuma sebatas penglihatan maya akibat gejala astronomi. Misalnya, Planet Venus yang karena terdistorsi oleh kondisi atmosfer yang luar biasa dapat “berubah” bentuk seperti piringan yang melesat ke sana kemari.

Menzel sendiri mengaku pernah mengalami salah persepsi. Ketika itu sebelum fajar tiba, 3 Maret 1995, ia sedang menerbangkan pesawat bomber tua ke kota Fairbanks. Tiba-tiba dari arah horison ada kilap terang yang melesat ke arahnya dan berhenti pada jarak 90 m. Tampak objek warna perak metalik dengan kelap-kelip cahaya hijau serta merah, dan seperti punya baling-baling dibagian atasnya. Menzel kontan berpikiran benda itu meteor, tetapi perilakunya tidak seperti meteor. Apakah itu halusinasi? Lalu ia menanggalkan kacamata guna memastikan hal itu bukan karena refleksi. Kemudian cahaya itu tiba-tiba berkelebat dengan percepatan yang sulit dipercaya, dan hilang di atas horison hanya dalam dua detik. Baru saat cahaya itu muncul lagi pada posisi yang sama, Menzel menyadari yang dilihatnya itu adalah sebuah binatang, mungkin Sirius yang ada di bawah horison. Andaikan orang lain yang menyaksikannya, mungkin ia akan beranggapan telah melihat UFO.

Kasus “cahaya angkasa” itu menunjukkan, pengamat yang sudah terlatih pun bisa salah mengidentifikasi. Belum lagi, radar pengamat lalu-lintas benda di angkasa pun ternyata tak luput dari kesalahan. Ia bisa gagal membedakan antara benda dan jejak meteor; atau antara jejak gas yang terionisasi, hujan, atau panas yang terputus. Apalagi, ada beberapa hal yang bisa menimbulkan “jejak” pada radar, meski keliru. Semisal gangguan elektronik, pantulan dari lapisan-lapisan yang terionisasi atau awan, serta refleksi dari daerah-daerah lembap. Sementara kontak fisik dengan makhluk pintar itu banyak yang diwarnai oleh halusinasi.

(dari pelbagai sumber/yan)