Selasa, 09 Februari 2021

Close Encounter of The Third Kind di jaman Jepang di Sawangan, Depok (1942-1945)

Fauzan Luthfi Agustin
Laporan ini masuk ke BETAUFO melalui whatsapp group dari Sdr. Fauzan Luthfi Agustin pada tanggal 8 Februari 2021. Sebelumnya juga pernah diceritakan langsung saat gathering BETAUFO di AEON Mall BSD City, Tangerang, tanggal 23 April 2017. Menurut penuturan Sdr. Fauzan, neneknya yang bernama Kani, pernah melihat benda terbang mirip bakul (tempat nasi) terbalik. Kata neneknya saat itu masih jaman Jepang. Neneknya meliat benda terbang itu sedang melayang di tengah sawah, lalu dari kejauhan neneknya melihat, benda terbang turun dan kemudian keluar bocah kecil. Kejadiannya sore  waktu itu. Dikatakan banyak bocah kecilnya. Lalu, neneknya mendatangni dan teriak, "Lu bocah udah sore, pada pulang sono." Didatangi justru mereka sepertinya takut dan masuk lagi ke bakul kebalik tersebut lalu kemudian terbang. Hal itu diceritakan oleh nenek Fauzan sebelum sakit dan wafat.

Neneknya sempat bercerita, bahwa ada dua kali sebenarnya melihat hal yang seperti itu. Yang kedua saat di kebon pisang. Nampak juga bakul kebaliknya dan di dalamnya ada bocah kecilnya juga. Terbang di atas kebon. Menurut Fauzan, neneknya hanya mengatakan ada bocah kecil, tidak ingat pasti tahunnya. Kejadian di Bojongsari Baru, dahulu masih daerah Sawangan (Pelita Jaya), di depok, Jawa Barat. Sekarang sudah menjadi bagian Bojongsari Baru. Sawahnya sudah menjadi lapangan bola sekarang. Neneknya juga bercerita bahwa sehabis kejadian itu, langsung disuruh matiin pelita (penerangan yang menggunakan api) dan masuk ke lubang perlindungan di bawah tanah. Dulu kalau ada info pasukan udara jepang datang, diperintahkan untuk mematikan semua sumber cahaya agar daratan tidak kelihatan oleh pasukan udaranya Jepang.

Yang mengetahui cerita ini adalah Fauzan, juga ayah dan ibunya. Saat ditanya bocah kecilnya itu seperti apa, dijawab, "yaa bocah kecil." Menurut ayah Fauzan, benda seperti bakul terbalik itu yang dilihat mertuanya mendarat di tengah sawah. Makhluk yang keluar seperti anak kecil tetapi bukan manusia. Makhluk-makhluk itu kecil, kurus dan plontos (tidak berambut). Rumah-rumah saat itu jaraknya masih jauh-jauh, sepi dan jarang orang. Ayahnya malah mengira itu adalah jin.

Selang tak berapa lama kemudian neneknya Fauzan sakit dan kemudian meninggal dunia. Fauzan mendengar cerita ini pada tahun 2017. Nenek Fauzan meninggal di usia 100 tahunan lebih dan saat melihat peristiwa aneh itu, neneknya masih muda.

Lokasi kejadian:  Dari titik ini ke selatan dulunya sawah luas  6°22'59.5"S 106°44'27.4"E
https://maps.google.com/?q=-6.383200,106.740956 sebelah utaranya tanah lumayan tinggi, tempat pemukiman.

 

 

 

 

 

 

Minggu, 07 Februari 2021

Penampakan UFO di Gresik, 17 Januari 2021

Saat mas Anugerah Sentot Sudono diwawancara di podcast Deddy Corbuzier, diceritakan tentang penampakan UFO di Gresik di bulan Januari 2021 sebagai laporan terbaru saat podcast dilakukan perekaman. Judulnya juga bombastis: "UFO Turun di Gresik!!" Ada banyak yang ingin tahu bagaimana sebenarnya detail ceritanya. Informasi ini diperoleh BETA-UFO pertama kali lewat WA Group dari mas Yanuar Aditya Hermawan. Untuk melengkapi informasi yang ada, telah dilakukan wawancara via zoom. Berikut rekamannya saat diwawancara oleh Nur Agustinus dan Setyawan Haryanto
https://www.youtube.com/watch?v=dqRP2caealg


 

 

Pada tanggal 17 Januari 2021, Yanuar Aditya Hermawan melaporkan penampakan UFO di Gresik (daerah Gresik Kota Baru, dekat Gresik Mall), yang dilihat oleh kedua anaknya (usia 9 dan 6 tahun), sekitar jam 7 malam. Bentuknya seperti mangkok mengeluarkan cahaya biru dan tengahnya ada warna putih. Benda itu semua turun dari atas ke bawah lalu terbang dari menuju ke arah Timur. Kejadian cukup cepat, sekitar 1 menit. Laporan masuk pertama kali lewat WA Group BETAUFO Public Network jam 7:19 PM. Informasi tentang UFO di Gresik ini sempat dikemukakan oleh Anugerah Sentot Sudono (Nugy) di acara podcast Deddy Corbuzier "Close The Door" dengan judul "UFO Turun di Gresik". Podcast bisa dilihat di https://www.youtube.com/watch?v=QYfIAa-GgHM

 

Ilustrasi dibuat oleh Aditya Hermawan berdasarkan cerita anaknya.

Ilustrasi yang dibuat dengan bantuan komputer.

 

Keep watching the sky www.betaufo.org 

Jika berkenan membantu BETAUFO Indonesia dalam rangka melakukan kegiatannya, bisa memberikan donasinya lewat https://saweria.co/Betaufo

Selasa, 02 Februari 2021

Mengenal dan Mengenang R.Jacob Salatun


 

BETA TALKS
Mengenal dan Mengenang:
R. Jacob Salatun
Perintis Penelitian UFO di Indonesia
Rabu, 3 Februari 2021
Mulai pukul 20.00 WIB
Bersama Nur Agustinus dan Joseph McKellen
 
Rekaman Zoom bisa disimak di bawah ini:

 
 
 
Marsda. TNI (Purn.) Jacob Salatun (lahir di Banyumas, Jawa Tengah, 29 Mei 1927 – meninggal di Jakarta, 3 Februari 2012 pada umur 84 tahun), adalah salah seorang tokoh dirgantara Indonesia. Salatun menjadi perencana berdirinya Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN).dan menjadi Menteri Perindustrian Penerbangan pada Kabinet Dwikora III pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. 

Menjelang pembentukan Lapan, Salatun juga menginisiasi Proyek Roket Ilmiah dan Militer Awal (PRIMA) pada 22 September 1962. Proyek prestisius yang melibatkan Angkatan Udara dan Institut Teknologi Bandung ini melambungkan nama Indonesia sebagai satu dari sedikit negara di Asia yang memiliki teknologi roket ketika dunia dilanda perang dingin.

Kegemaran Salatun akan UFO sejalan dengan kegiatannya mengembangkan dunia kedirgantaraan. Pria kelahiran Banyumas, 29 Mei 1927, ini juga mendirikan Studi UFO Indonesia (SUFOI). Beberapa buku mengenai UFO juga ia terbitkan yaitu "Menjingkap Rahasia Piring Terbang" pada tahun 1960 dan "UFO: Salah Satu Masalah Dunia Masa Kini" (1982).
 
Dalam buku terakhir, Salatun menuturkan pengalamannya melihat piring terbang. Pada 28 Maret 1982, ia sedang bercengkrama dengan anak laki-lakinya ketika menyaksikan kemunculan benda tak dikenal di tengah-tengah awan. Benda terbang tersebut berbentuk bulat dan berwarna putih.

"Mula-mula benda itu diam di tengah-tengah awan, kemudian ia bergerak ke arah barat sambil meninggalkan awan tadi untuk akhirnya menghilang pada elevasi 45 derajat," tulis Salatun dalam buku tersebut.

Buku karya Salatun sendiri menginspirasi banyak orang di Indonesia untuk memahami UFO. Tak heran jika peminat UFO di Tanah Air  mendaulat Salatun sebagai Bapak UFO Indonesia.